Senin, 01 April 2013

KEBUDAYAAN PAPUA
(Kajian Teoritis dan Aplikasinya dalam Pembelajaran)

MAKALAH
disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Kebudayaan Indonesia

Oleh
Nanda 1101082
Rina Meidawati                      1102348
Sani     1105081
Yuliani            1100808
Yusuf  1101045


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. karena berkat rahmat dan hidayahNya penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul ‘Kebudayaan Papua’ ,makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kebudayaan Indonesia.
Dalam penyusunan tugas atau makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Dosen yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.



            Bandung, Maret 2012
                                                                                                                 Penulis

Daftar Isi


Kata Pengantar........................................................................................................... 
Daftar isi.................................................................................................................... 
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 
A. Latar Belakang...................................................................................................... 
B. Rumusan Masalah................................................................................................. 
C. Tujuan Pembuatan Makalah..................................................................................
D. Manfaat Pembuatan Makalah...............................................................................
BAB II ISI.................................................................................................................
1. Letak Geografis dan Demografis...........................................................................
2. Papua Timur...........................................................................................................
      2.1 Luas Wilayah.................................................................................................
      2.2 Letak Geografis.............................................................................................
      2.3 Batas Wilayah................................................................................................
      2.4 Topografi........................................................................................................
      2.5 Iklim dan Cuaca.............................................................................................
3. Papua Barat............................................................................................................
3.1 Luas Wilayah.......................................................................................................
      3.2 Letak Geografis.............................................................................................
      3.3 Batas Wilayah................................................................................................
      3.4 Topografi........................................................................................................
      3.5 Iklim dan Cuaca.............................................................................................
4. Unsur-unsur Kebudayaan Papua............................................................................
        4.1 Sistem Bahasa..............................................................................................
        4.2 Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi........................................................
        4.3 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian Hidup...........................................
        4.4 Sistem Kekerabatan.....................................................................................
        4.5 Ilmu Pengetahuan........................................................................................
        4.6 Kesenian.......................................................................................................
                4.6.1 Rumah Adat......................................................................................
               4.6.2 Senjata Tradisional.............................................................................
               4.6.3 Tari-tarian...........................................................................................
               4.6.4 Alat Musik.........................................................................................
               4.6.5 Makanan Tradisional..........................................................................
        4.7 Sistem Religi atau Agama............................................................................
BAB III PENUTUP..................................................................................................
A. Kesimpulan...........................................................................................................
B. Saran......................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
papua merupakan salah satu pulau terbesar di Negara Indonesia, karena luas pulau yang begitu besar menyebabkan penyebaran penduduk yang begitu luas di daerah tersebut yang menyebebkan banyaknya kultur budaya, bahasa, religi, interaksi sosial, matapencaharian, sistem ekonomi dan pengetahuan yang berbeda di setiap daerah. Dan hal tersebut membuat daya tarik pulau tersebut. Namun disayangkan karena banyaknya hal yang berbeda tersebut menyebabkan seringnya timbul konflik antar suku.

Keragaman kultur budaya yang ada membuat  kita sadar  akan kekayaan yang dimili oleh Negara kita. Dan makalah ini dibuat agar kita bisa memahami dan mengetahui beragam kultur budaya dan interaksi sosial apa saja yang ada pada penduduk di daerah papua. Sehingga kita bisa memahami dan mempelajari 7 unsur kebudayaan apa saja yang ada di daerah papua.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas , penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Dimana letak geografis dan demografis wilayah Papua?
2. Dimana letak Papua Barat?
3. Dimana letak Papua Timur?
4. Apa saja unsur-unsur budaya Papua?
C.    Tujuan penulisan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1. letak geografis dan demografis wilayah papua      
2. letak Papua Barat   
3. letak Papua Timur
4. Unsur-unsur budaya Papua

D.     Manfaat penulisan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai salah satu media informasi dalam memahami bagaimana kehidupan di Papua. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:
1.      Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan untuk memahami unsur-unsur kebudayaan di Papua.
2.      Pembaca/dosen, sebagai media informasi tentang unsur-unsur kebudayaan di Papua baik secara teoritis maupun secara praktis.

                                               BAB II
ISI

1.      Letak Geografis dan Demografis
             Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea.
              Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, sehingga sering disebut sebagai Papua Barat terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.
               Nama provinsi ini diganti menjadi Papua sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini.
2.      Papua Timur
    
 2.1 Luas Wilayah
             Luas wilayah provinsi Papua adalah 317. 062 (Km2). Jika dibandingkan dengan wilayah Republik Indonesia, maka luas wilayah Provinsi Papua merupakan 19,33 persen dari luas Negara Indonesia yang mencapai 1.890.754 (Km2). Ini merupakan provinsi terluas di Indonesia.
             Persentase penduduk Papua jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia secara keseluruhan tercatat sebesar 0.77% pada tahun 1971. Kemudian pada tahun 1980 meningkat menjadi 0,79%. Tahun 1990 peningkatan persentase jumlah penduduk Papua sangat tinggi yang mencapai 0,91%. Pada tahun 2000 mengalami penurunan menjadi 0.86% dan terakhir pada tahun 2005, pesentase jumlah penduduk Papua tercatat sebanyak 0.85%.
              Kabupaten Merauke merupakan daerah yang terluas yaitu 4397 Ha atau 13,87% dari total luas Provinsi Papua. Sedangkan Kota Jayapura merupakan daerah terkecil tetapi apabila dibandingkan dengan kota se-Indonesia, maka Kota Jayapura merupakan kota yang terluas. Kota Wamena (Jayawijaya) dengan ketinggian 2000 - 3000 meter diatas permukaan laut merupakan kota tertinggi dan terdingin di Papua. Sedangkan yang terendah adalah kota Merauke dengan ketinggian 3.5 meter diatas permukaan laut.
      2.2 Letak Geografis
              Provinsi Papua dengan luas 31.7062 Km2, terletak diantara 130° - 141°Bujur Timur dan 2°25' Lintang Utara - 9° Lintang Selatan.
      2.3 Batas Wilayah
        Provinsi Papua berbatasan dengan :
Sebelah Utara                      : Samudera Fasifik/Pacific Ocean
Sebelah Selatan                   : Laut Arafura/Arafura Sea
Sebelah Barat                       : Provinsi Papua Barat
Sebelah Timur                       :Papua New Guinea
      2.4 Topografi
              Pegunungan Utama di Provinsi Papua terdiri atas Pegunungan Kobowre di Nabire, Pegunungan Sudirman di Enarotali dan Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya di Jayawijaya, Pegunungan Vanres di Mamberamo, Pegunungan Gauntier dan Pegunungan Wisnumurti.

      2.5 Iklim dan Cuaca
                Kota Jayapura merupakan daerah dengan suhu udara tertinggi, mencapai 28,2 ºC ditahun 2005 sedangkan Wamena merupakan daerah dengan suhu udara terendah yang mencapai 19,4 ºC pada tahun 2004. Persentase kelembaban udara tertinggi mencapai 87% di Biak pada tahun 2005 dan terendah mencapai 77% di Serui pada tahun 2001. Rata-rata penyinaran matahari tercatat di Merauke yang mencapai 70% pada tahun 2005 sedangkan persentase terendah tercatat pada tahun 2003 di Biak yang mencapai 37%.
3.      Papua Barat
3.1 Luas Wilayah
             Provinsi Papua Barat memiliki luas wilayah 115.363,50 km2 dengan Kabupaten Teluk Bintuni merupakan kabupaten terluas yaitu 18.658 km2 atau 16,17 persen dari total luas wilayah Provinsi Papua Barat dan Kota Sorong merupakan kabupaten dengan luasan terkecil yaitu 1.105 km2.
    
 3.2 Letak Geografis
              Provinsi Papua Barat terletak antara 00,0" - 40,0" Lintang Selatan dan 1240,00" - 1320,0" Bujur Timur, tepat berada dibawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0 - 100 meter dari permukaan laut.
      3.3 Batas Wilayah
             Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah :
Sebelah Utara         : Samudera Pasifik
Sebelah Selatan       : Laut Banda  Provinsi Maluku
Sebelah Barat         : Laut Seram Provinsi Maluku
Sebelah Timur         : Provinsi Papua
      3.4 Topografi
              Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10 - 100 m diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lain yang terdapat di Provinsi Papua Barat  berkisar antara 10 - 50 m diatas permukaan laut.  Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat Kabupaten Sorong dilintasi oleh 14 sungai dengan panjang keseluruhan 3.586 km atau sebesar 78,08 persen dari total panjang sungai se Provinsi Papua Barat.
             Berdasarkan penggunaannya sebagian besar lahan bukan sawah di Provinsi Papua Barat diperuntukkan untuk tahun 2004 mengalami penurunan.
      3.5 Iklim dan Cuaca
                 Berdasarkan hasil pencatatan suhu udara pada beberapa Stasiun yang berada di Kabupaten/Kota se- Provinsi Papua Barat pada tahun 2005 menunjukkan bahwa suhu rata-rata tertinggi terjadi di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong yaitu sebesar 27,70
derajat celsius dan suhu udara rata-rata terendah berada di Kabupaten Fakfak yang hanya berkisar 14,50 derajat celsius (Tabel 5.)
              Provinsi Papua Barat mempunyai kelembaban udara yang hampir sama antar Kabupaten/Kota yaitu berkisar pada 83,67 persen sampai 85 persen, dimana angka terendah terjadi di Kabupaten Manokwari dan yang paling tinggi di Kabupaten Fakfak.
              Tekanan udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat seperti yang disajikan pada Tabel 6 menunjukkan  bahwa kabupaten Sorong dan Kota Sorong mempunyai tekanan udara rata-rata tertinggi yaitu sebesar 1.010,7 mbs, sementara tekanan udara rata-rata terendah terjadi di kabupaten Fakfak dengan tekanan udara rata-rata sebesar 994,31 mbs.
               Sepanjang tahun 2005 curah hujan dibeberapa wilayah di Provinsi Papua Barat tecatat bahwa curah hujan tertinggi terjadi di Kabupaten Fakfak yaitu sebesar 3.209 mm. Sementara curah hujan terendah terjadi di Kabupaten Kaimana yang curah hujannya hanya mencapai 127 mm.
4. Unsur-unsur Kebudayaan Papua
              Papua mempunyai unsur-unsur kebudayaan seperti sistem bahasa, peralatan hidup dan teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan hidup, sistem kekerabatan, ilmu pengetahuan, kesenian dan religi.
        4.1 Sistem Bahasa
             Pulau papua sangatlah luas yang membuat beraneka macam bahasa yang mereka miliki. Tetapi bahasa tersebut sudah mulai tercampur atau beralkulturasi dengan bahasa melayu yang terdapat pada pendududk sekitar pulau papua. Selama berabad-abad penduduk asli papua telah menjalin suatu hubungan interaksi sosial dengan penduduk yang berdekatan dengan pulau paua seperti maluku, dan sulawesi.Selama kurun waktu tersebut, orang-orang dari pulau terdekat yang kemudian datang dan menjadi bagian dari Indonesia yang modern, menyatukan berbagai keragaman budaya  di pulau papua.

               Hal ini tentunya membutuhkan interaksi yang cukup baik dan waktu yang tidak sebentar agar para penduduk di Papua bisa belajar bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, apalagi mengingat keaneka-ragaman bahasa yang mereka miliki. Pada tahun 1963, dimana dari sekitar 700.000 populasi penduduk yang ada, 500.000 diantara mereka berbicara dalam 200 macam bahasa yang berbeda dan tidak difahami antara satu dengan yang lainnya. Beragamnya bahasa diantara sedikitnya populasi penduduk tersebut diakibatkan karena terbentuknya kelompok-kelompok yang diisolasi oleh perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya selama berabad-abad yang disebabkan oleh kepadatan hutan dan juga jurang yang curam yang sulit untuk dilalui yang memisahkan mereka, oleh karena itu sekarang ini ada sebanyak 234 bahasa pengantar di Papua, dua dari bahasa kedua tanpa pembicara asli. Banyak dari bahasa ini hanya digunakan oleh 50 atau kurang pemakainya. Di Papua juga terdapat bahasa ‘mapia’ yang hanya digunakan oleh 1 orang, sementara bahasa ‘tandia’ pleh 2 orang.
           Sekarang ini bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa pengantar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan merupakan bahasa didalam melakukan berbagai transaksi. Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa melayu yang sudah mengalami perubahan yang disebabkan pada zaman kolonial.
        4.2 Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
           Untuk bertahan hidup masyarakat papua itu salah satunya menggunakan sejata yang disebut pisau belati dan tombak , pisau belati dan tombak itu biasanya digunakan untuk mencari bahan makanan di hutan atau kebun dan untuk berburu. Selain itu untuk berkebun masyarakat papua sering menggunakan peralatan sederhana yaitu tongkat kayu berbentuk linggis  dan kapak batu.
             Cara untuk bertahan hidup lainnya selain menggunakan senjata yang di atas. masyarakat papua membangun rumah, rumah tersebut adalah rumah honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Rumah honai mempunyai pintu kecil dan tidak mempunyai jendela tujuannya adalah untuk melindungi mereka dari hewan liar dan menahan hawa dingin yang bersal dari pegunungan papua.
  
  4.3 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian Hidup
              Mata pencaharian hidup yang terpenting dari orang Bgu adalah meramu sagu (pom). Hutan-hutan sagu yang sekarang berada pada kira-kira tiga sampai lima kilometer jauhnya dari desa-desa. Di daerah pedalaman di hulu-hulu sungai, seperti di daerah hulu Tor misalnya, pekerjaan mencari sagu itu merupakan pekerjaan wanita, adapun pekerjaan orang laki-laki adalah mencari hasil hutan dan sedikit berkebun. Sedangkan mencari ikan adalah pekerjaan laki-laki maupun wanita. Berburu juga merupakan suatu mata pencaharian penting yang exlusif dilakukan oleh oleh orang laki-laki.
               Untuk lebih menggambarkan Mata Pencaharian hidup masyarakat Papua, kami mengambil contoh dari daerah papua yang relatif lebih maju dan daerah terasing: untuk daerah papua yang maju kami mengambil contoh daerah Kabupaten Jayawijaya kecamatan Wawena. (1990: hlm.15 ), mata pencaharian pokok penduduk pada kecamatan ini adalah bertani, yang masih bersifat liar dan berpindah-pindah. Mereka mengelola tanah secara bergotong royong. Tanama pokok adalah ubi jalar yang merupakan makanan pokok mereka. Disamping ubi jalar mereka juga menanam sayur-=sayuran seperti: kol, wortel, buncis, kacang panjang, kentang dan lain sebagainya. Sedangkan untuk menggambarkan daerah papua yang terasing kami mengambil contoh dari daerah pegunuingan Jayawijaya yaitu masyarakat Dani. Dalam bukunya (1990: hlm. 282-166),Koentjaraningrat menguraikan bahwa di sekitar orang Dani selalu ada babi dan ubi manis (Disocorea esculanta). Secara implisit ucapan ini menunjukan dua jenis mata pencaharian pokok orang Dani. Ubi manis adlah jenis tanaman utama dalam kebun-kebun orang Dani, yang menurut perkiraan merupakan 90% makanan mereka. Dengan peralatan yang masih sederhana, yaitu tongkat kayu berbentuk lin ggis dan kampak batu.tanah halaman mereka biasanya ditanami tembakau,pisang, dan tebu. Setelah tanah itu ditinggalkan, lalu mereka membuka kebun yang baru di bidang tanah lain. Dalam kurun waktu tertentu tanah bekas kebun lama yang kembali ditumbuhi pohon dan belukar itu dapat dibuka lagi setelah kesuburannya pulih kembali.
     

  4.4 Sistem Kekerabatan
               Koentjaraningrat (2004: 78) Suatu rumah di desa Daerah Pantai Utara biasanya didiami oleh satu keluarga-batih, kadang-kadang ditambah dengan beberapa kerabat lain, ialah seorang ibu atau ayah yang tua, menantu dan cucu-cucu atau sodara perempuan isteri dengan suaminya. Demikian walaupun komposisi kerabat yang merupakan suatu rumah tangga itu kadang-kadang bersifat keluarga luas, namun kalau diambil rata-rata jumlah anggota rumah tangga disana, angkanya tetap kecil, ialahkira-kira 4 orang. Seorang kepala  keluarga-batih tercatat dalam buku gereja, yang sekalian juga merupakan suatu buku register desa dengan suatu nama Kristen, misalnya Huber Barge. Seperti dalam masyarakat orang Eropah, orang Bgu mendapat nama keluarga dari ayahnya. Anak-anak Huber Bagre juga mendapat nama Barge dengan nama Kristen, menjadi misalnya Wempi Barge. Dengan demikian tampak di desa-desa Bgu dan juga di desa-desa di Pantai Utara pada umunnya, golongan-golongan orang atau kolektifa kolektifita dengan nama yang sama, yang seolah-olah merupakan kelompok-kelompok kekerabatan atau klen-klen patrilineal yang kecil.
        4.5 Ilmu Pengetahuan atau Pendidikan
             Koentjaraningrat (2004: 92) Kabupaten jayawijaya pada tahun ajaran 1986/1987 terdapat 3 buah TK dengan 6 buah ruang belajar dan menampung 179 orang murid, dengan jumlah tenaga guru 8 orang, guru tetap 2 orang dan 6 guru tidak tetap. Sampai saat ini TK tersebut masih berstatus swasta. Jumlah SD sebanyak 305 buah terdiridari 226 negeri dan 79 swasta dengan jumlah ruang belajar 1.352 buah, jumlah murid 31.313 orang, tenaga pengajar 1176 orang. Sekolah Menengah Tingkat Pertama terdapat 22 buah SMP terdiri dari 14 negeri dan 8 swasta, dengan memiliki 99 ruang belajar dan menampung 4.463 murid, dan jumlah tenaga pengajar sebanyak 245 orang guru tetap dan tidak tetap. Sekolah Menengah Tingkat Atas sebanyak 4 buah, terdiri dari 1 buah SMA Negeri, 2 SPG swasta dan 1 SMEA swasta yang seluruhnya memiliki 17 ruang belajar, dan menampung 1.923 orang sisiwa, dengan jumlah tenaga pengajar 8 orang guru tetap dan 30 orang guru tidak tetap.
Masalah Pendidikan

             Ciri-ciri mental yang bersifat merintangi pembanguan dan kemajuan itu, memang hanya dapat dirubah dengan amat lambat dan di dalam ini pendidikan merupaka salah satu alat yang terpenting. Sayang sekali bahwa pada umumnya taraf pendidikan sekolah di Distrik pantai utara masih terlampau rendah. Ada suatu gejala kekurangan guru yang menyebabkan bahwa dalam beberapa tahun lamanya. Adapun guru-guru yang ada, adalah guru-guru pribumi irian yang pendidikannya hanya cukup untuk mengajar disekolah-sekolah dasar tiga tahun, sehingga pendidikan disekolah-sekolah desa itu nanti akan menghasilkan gejala anak-anak canggung.
            Sebaliknya, untuk menarik guru-guru itusupaya di up-grade dan diberi pendidikan-pendidikan tambahan yang tentunya akan makan waktu beberapa tahun, akan menambah lowongan-lowongan yang ada susahnya, lowongan-lowongan itu sukar untuk diisi dengan guru-guru bukan pribumi Irian, misalnya oleh sukarelawan pendidikan, karena betapa pun bersemangatnya mereka itu, mereka tidak akan dapat hidup dalam masyarakat-masyarakat desa pantai utara itu. Gru-guru sukarelawan juga tidak bisa makan makanan Indonesia bagian Barat, karena hal itu akan menimbulkan masalah logistik yang amat sulit. Toko-toko di desa-desa pantai amat jarang, sehingg ada desa-desa yang letaknya sampai empat hari berjalan bolak-balik dari sebuah toko. Kalau seorang guru harus harus pergi empat hari hanya untuk belanja, belum diperhitungkan masalah mengangkut barang belanjaannya yang harus dipikul diatas punggung manusia yang pada jarak 50 Km sehari secara maksimal hanya bisa mengangkat 30 Kg, maka kita bisa membayangkan betapa besar kesukaran supply itu baginya, Memang masalah memajukan pendidikan sekolah juga erat bersangkutan dengan masalah menghapuskan isolasi fisik.
        4.6 Kesenian
               Terdapat beberapa kesenian di Papua seperti alat musik, tari-tarian dan berbagai macam musik tradisional lainnya.
                4.6.1 Rumah Adat
(http://www.wahana-budaya-indonesia.com/ )  menyatakan  :

Rumah adat Masyarakat Papua, atau yang biasa disebut dengan Honai.
               Honai adalah rumah khas Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Sebenarnya, struktur Honai dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua.
               Honai terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena dibangun 2 lantai, Honai memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).
               4.6.2 Senjata Tradisional
(http://id.wikipedia.org/wiki/Papua) menyatakan :
              Salah satu senjata tradisional di Papua adalah Pisau Belati. Senjata ini terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan bulunya menghiasi hulu Belati tersebut. senjata utama penduduk asli Papua lainnya adalah Busur dan Panah. Busur tersebut dari bambu atau kayu, sedangkan tali Busur terbuat dari rotan. Anak panahnya terbuat dari bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu atau berperang.
              Salah satu senjata tradisional di Papua lainnya yang cukup terkenal dan menjadi senjata utama adalah adalah Busur dan Panah.  Busur tersebut  terbuat dari sekang bambu atau kayu, sedangkan tali Busurnya terbuat dari sekang rotan. Anak panahnya terbuat dari sekang bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu atau berperang. Selain ketiga senjata di atas tameng juga merupakan alat adat yang

dipergunakan untuk pertahanan perang. Konsep tameng ini selanjutnya dipergunakan untuk aparat
               4.6.3 Tari-tarian
            Tarian ini melambangkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua. Biasanya tarian ini di bawakan ketika kepala suku memerintahkan para prajurit untuk berperang, dengan tarian ini semangat prajurit dapat semakin berkobar. Namun seiring perkembangan zaman dan peraturan pemerintah yang melarang keras adanya peperangan antar suku, tarian ini kini hanya menjadi tarian penyambut tamu undangan.Ditarikan oleh 16 laki-laki dan 2 perempuan, mereka menari dengan iringan tifa dan lantunan lagu-lagu perang pembangkit semangat. Panas mentari Papua yang menyengat tidak memudarkan semangat mereka untuk terus menari dan menabuh musik pukul yang menjadi ikon Papua tersebut.Dengan mengenakan busana tradisional, dengan manik-manik penghias dada,rok terbuat dari akar, dan daun-daun yang disisipkan pada tubuh menjadi bukti kecintaan masyarakat Papua pada alam. (disadur dari berbagai sumber).-4.269928,138.080353
               4.6.4 Alat Musik
(http://terselubung.blogspot.com) menyatakan :
             Tifa adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, Tifa mirip seperti gendang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. tiap suku di maluku dan papuamemiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.
            Tifa biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. rian ini biasanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya.

               4.6.5 Makanan Tradisional
(http://www.jalanjalanyuk.com/sagu-makanan-khas-papua/) menyatakan :
         Hamparan tanaman sagu di Papua, diperkirakan adalah yang terluas di dunia, denagn menguasai 85 persen total luas tanaman sagu di seluruh Indonesia. Papua adalah propinsi penghasil sagu terbesar, dan luasnya tak kurang dari 700.000 hektar lahan sagu.
          Secara turun temurun, masyarakat Papua mampu memilih bibit sagu yang baik. Dan mereka secara tradisional bergantung kepada alam, serta mengolah sagu dengan tenaga manual. Alat-alatpun mereka ciptakan sendiri menyesuaikan dengan teknik pengolahan sagu yang mereka kuasai. Tak ada bantuan mesin, semuanya mereka kerjakan sendiri.
          Tanaman sagu sudah bisa dipanen jika berumur dua sampai tiga tahun. Dalam satu keluarga, mereka bergotong-royong memanen sagu, dan akan mendapatkan sekitar 150 hingga 300 kilogram sagu yang bisa memenuhi kebutuhan makanan mereka selama dua minggu hingga satu bulan. Awalnya, pohon sagu ditebang dan kemudian batangnya dikuliti. Dengan menguliti batang sagu tersebut, didapatkanlah intinya, yang merupakan sagu yang berada di dalam pohon.
           Inti pohon sagu tersebut kemudian dibelah hingga didapatkan ukuran yang lebih kecil. Setelah itu, diambil dan ditumbuk. Penumbukan sagu dilakukan dengan alat yang disebut pangkur. Pangkur ini bentuknya lancip, mirip dengan tombak pada ujungnya. Berbentuk menyerupai cangkul yang berfungsi menghancurkan sagu menjadi potongan kecil-kecil menyerupai serat. Yang selanjutnya kemudian dicampur dengan air. Pada proses selanjutnya, sagu akan mengendap dan memisahkan diri dari air, endapan tersebut yang akan dipadatkan dan dibentuk seperti bola atau lontong dan disimpan dalam wadah-wadah khusus.

        4.7 Sistem Religi atau Agama
Walaupun secara resmi orang penduduk Pantai Utara beragama kristen, namun tanggapan dunia gaib dan dunia akhirat masih banyak berasal dari religi mereka yang asli. Konsepsi mengenai dunia akhirat misalnya adalah sebagai berikut: jiwa orang mati (fonggumu = pikiran) melepaskan diri dari tubuh dan menjadi roh (kepka) dalam waktu yang berangsur-angsur.  Dalam proses itu ia masih berada sekitar rumah tempat tinggalnya. Itulah sebabnya keluarga si wafat diasingkan dalam rumah supayatidak menulari masyarakatdengan suasana kewafatan dan kepka dari si wafat itu. Kalu sudah terlepas dari dan bebas dari ikatan dunia yang fana ini., roh pergi ke alam baka yang katanya berupa suatu gunung bernama tardongsau, di dalam hutan rimbanya di daerah hulu sungai. Lain-lain orang yang sudah tebal agama kristennya berkata, bahwa kepka akan pergi menghadap tuhan yesus. Desa roh di gunung tardongsau dibanyangkan sebagai suatu desa dimana roh itu hidup tepat serupa dengan di dunia fana ini. Bahkan mereka yang sudah bicara tentang sorga, seperti yang diajarkan oleh kristen,  kalu ditanya terbukti masih juga membayangkan kehidupan sorga seperti kehidupan di dunia ini, hanya lebih bahagia dan bersama dengan ppara kdo, nenek moyang.
Untuk  menggambarkan religi yang dianut masyarakat papua, kami mengambil contoh dari daerah papua yang relatif lebih maju dan daerah terasing: untuk daerah papua yang maju kami mengambil contoh daerah Kabupaten Jayawijaya kecamatan Wawena. (1990: hlm. 17-18), tachier menguraikan penduduk asli Kabupaten Jayawijaya sebagian besar memeluk agama Kristen Protestan, Roma Khatolik dan islam. Semua hukum atau ketentuan-ketentuan agama yang dianut selalau dituruti dengan baik, seperti pada hari minggu mereka tidak bekerja tetapi harus ke gereja. Bila tidak dapat ke gereja. Bila tidak dapat ke gereja, mereka lebih baik istirahat, dirumah atau honaydan agama islam terdapat pada desa Walesi, dan di daerah ini sudah dibangun sebuah mesjid tempat beribadah khusus untuk penduduk asli daerah tersebut. Namun demikian toleransi beragama cukup baik dan hidup saling menghargai antara penganut agama satu dengan lainya. Untuk daerah papua yang terasing kami mengambil contoh daerah pegunungan jayawijaya yaitu masyarakat dani.

Dalam bukunya (1990: hlm. 282-166),Koentjaraningrat menguraikan dasar dari religi orang Dani adalah penghormatan ruh nenek-moyang, yang upacaranya dipusatkann pada pesta babi. Orientasi dan konsep-konsep serta kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya ditunjukan pada kesejahteraan hidup dan peperangan. Konsep keagamaan yang terpenting adalah atou, yaitu kekuatan sakti para nenek-moyang yang diturunkan secara patrilineal. Kekuatan sakti itu dapat diturunkan kepada anak-anak pria maupun wanita, namun wanita tidak dapat meneruskan kepada keturunannya. Kekuatan tersebut antara lain dapat digunakan untuk menjaga kebun pemiliknya terhadap pelanggaran-pelanggaran denagan memasang suatu tanda khusus. Orang yang melanggarnya diyakini akan mengalami celaka, mereka yang diakui orang Dani sebagai nenek-moyang pada umunya adalah manusia-manusia yang nyata dan pernah mereka kenal (walaupun samar-samar), yang menurunkan mereka melalui garis patrilineal tiga atau empat angkatan di atas mereka.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut:
1.         Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea.
2.         Papua mempunyai unsur-unsur kebudayaan seperti sistem bahasa, peralatan hidup dan teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan hidup, sistem kekerabatan, ilmu pengetahuan, kesenian dan religi.

B.        Saran
          Sejalan dengan simpulan diatas, penulis merumuskan saran sebagai berikut:
1.         Sebagai seorang warga negara kita wajib memahami kebudayaan yang multikultural ini terlebih untuk saling menghargai perbedaan antar budaya.
2.         Sebagai calon pendidik profesional hendaknya mempelajari serta memahami budaya-budaya yang ada di Indonesia contohnya saja budaya Papua.

                                    DAFTAR PUSTAKA
Data Geografis. [Online].Tersedia http://pemkam.papua.go.id/?menu=geografis.
Geografis Papua Barat. [Online].Tersedia http://www.batukar.info/wiki/geografis-papua-barat.
Koentjaraningrat (2004). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan
Koentjaraningrat (1990). Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta
Papua. (2012). [Online].Tersedia http://id.wikipedia.org/wiki/Papua.
Tachier. A. (1990). Pola Pengasuhan Anak Pada Masyarakat Pedesaan. Jakarta
Tari Perang Papua. [Online].Tersedia http://www.indonesiabox.com/tari-perang-papua/.
Tifa Alat Musik dari Papua. [Online].Tersedia http://terselubung.blogspot.com.
Sagu Makanan Khas Papua. [Online].Tersedia http://www.jalanjalanyuk.com/sagu-makanan-khas-papua/
Senjata adat Papua.(2011). [Online].Tersedia http://zipoer7.wordpress.com.



KEBUDAYAAN PAPUA
(Kajian Teoritis dan Aplikasinya dalam Pembelajaran)

MAKALAH
disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Kebudayaan Indonesia

Oleh
Nanda 1101082
Rina Meidawati                      1102348
Sani     1105081
Yuliani            1100808
Yusuf  1101045


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. karena berkat rahmat dan hidayahNya penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul ‘Kebudayaan Papua’ ,makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kebudayaan Indonesia.
Dalam penyusunan tugas atau makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
Dosen yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.



            Bandung, Maret 2012
                                                                                                                 Penulis

Daftar Isi


Kata Pengantar........................................................................................................... 
Daftar isi.................................................................................................................... 
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 
A. Latar Belakang...................................................................................................... 
B. Rumusan Masalah................................................................................................. 
C. Tujuan Pembuatan Makalah..................................................................................
D. Manfaat Pembuatan Makalah...............................................................................
BAB II ISI.................................................................................................................
1. Letak Geografis dan Demografis...........................................................................
2. Papua Timur...........................................................................................................
      2.1 Luas Wilayah.................................................................................................
      2.2 Letak Geografis.............................................................................................
      2.3 Batas Wilayah................................................................................................
      2.4 Topografi........................................................................................................
      2.5 Iklim dan Cuaca.............................................................................................
3. Papua Barat............................................................................................................
3.1 Luas Wilayah.......................................................................................................
      3.2 Letak Geografis.............................................................................................
      3.3 Batas Wilayah................................................................................................
      3.4 Topografi........................................................................................................
      3.5 Iklim dan Cuaca.............................................................................................
4. Unsur-unsur Kebudayaan Papua............................................................................
        4.1 Sistem Bahasa..............................................................................................
        4.2 Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi........................................................
        4.3 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian Hidup...........................................
        4.4 Sistem Kekerabatan.....................................................................................
        4.5 Ilmu Pengetahuan........................................................................................
        4.6 Kesenian.......................................................................................................
                4.6.1 Rumah Adat......................................................................................
               4.6.2 Senjata Tradisional.............................................................................
               4.6.3 Tari-tarian...........................................................................................
               4.6.4 Alat Musik.........................................................................................
               4.6.5 Makanan Tradisional..........................................................................
        4.7 Sistem Religi atau Agama............................................................................
BAB III PENUTUP..................................................................................................
A. Kesimpulan...........................................................................................................
B. Saran......................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
papua merupakan salah satu pulau terbesar di Negara Indonesia, karena luas pulau yang begitu besar menyebabkan penyebaran penduduk yang begitu luas di daerah tersebut yang menyebebkan banyaknya kultur budaya, bahasa, religi, interaksi sosial, matapencaharian, sistem ekonomi dan pengetahuan yang berbeda di setiap daerah. Dan hal tersebut membuat daya tarik pulau tersebut. Namun disayangkan karena banyaknya hal yang berbeda tersebut menyebabkan seringnya timbul konflik antar suku.

Keragaman kultur budaya yang ada membuat  kita sadar  akan kekayaan yang dimili oleh Negara kita. Dan makalah ini dibuat agar kita bisa memahami dan mengetahui beragam kultur budaya dan interaksi sosial apa saja yang ada pada penduduk di daerah papua. Sehingga kita bisa memahami dan mempelajari 7 unsur kebudayaan apa saja yang ada di daerah papua.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas , penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Dimana letak geografis dan demografis wilayah Papua?
2. Dimana letak Papua Barat?
3. Dimana letak Papua Timur?
4. Apa saja unsur-unsur budaya Papua?
C.    Tujuan penulisan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1. letak geografis dan demografis wilayah papua      
2. letak Papua Barat   
3. letak Papua Timur
4. Unsur-unsur budaya Papua

D.     Manfaat penulisan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai salah satu media informasi dalam memahami bagaimana kehidupan di Papua. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:
1.      Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan untuk memahami unsur-unsur kebudayaan di Papua.
2.      Pembaca/dosen, sebagai media informasi tentang unsur-unsur kebudayaan di Papua baik secara teoritis maupun secara praktis.

                                               BAB II
ISI

1.      Letak Geografis dan Demografis
             Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea.
              Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, sehingga sering disebut sebagai Papua Barat terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.
               Nama provinsi ini diganti menjadi Papua sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini.
2.      Papua Timur
    
 2.1 Luas Wilayah
             Luas wilayah provinsi Papua adalah 317. 062 (Km2). Jika dibandingkan dengan wilayah Republik Indonesia, maka luas wilayah Provinsi Papua merupakan 19,33 persen dari luas Negara Indonesia yang mencapai 1.890.754 (Km2). Ini merupakan provinsi terluas di Indonesia.
             Persentase penduduk Papua jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia secara keseluruhan tercatat sebesar 0.77% pada tahun 1971. Kemudian pada tahun 1980 meningkat menjadi 0,79%. Tahun 1990 peningkatan persentase jumlah penduduk Papua sangat tinggi yang mencapai 0,91%. Pada tahun 2000 mengalami penurunan menjadi 0.86% dan terakhir pada tahun 2005, pesentase jumlah penduduk Papua tercatat sebanyak 0.85%.
              Kabupaten Merauke merupakan daerah yang terluas yaitu 4397 Ha atau 13,87% dari total luas Provinsi Papua. Sedangkan Kota Jayapura merupakan daerah terkecil tetapi apabila dibandingkan dengan kota se-Indonesia, maka Kota Jayapura merupakan kota yang terluas. Kota Wamena (Jayawijaya) dengan ketinggian 2000 - 3000 meter diatas permukaan laut merupakan kota tertinggi dan terdingin di Papua. Sedangkan yang terendah adalah kota Merauke dengan ketinggian 3.5 meter diatas permukaan laut.
      2.2 Letak Geografis
              Provinsi Papua dengan luas 31.7062 Km2, terletak diantara 130° - 141°Bujur Timur dan 2°25' Lintang Utara - 9° Lintang Selatan.
      2.3 Batas Wilayah
        Provinsi Papua berbatasan dengan :
Sebelah Utara                      : Samudera Fasifik/Pacific Ocean
Sebelah Selatan                   : Laut Arafura/Arafura Sea
Sebelah Barat                       : Provinsi Papua Barat
Sebelah Timur                       :Papua New Guinea
      2.4 Topografi
              Pegunungan Utama di Provinsi Papua terdiri atas Pegunungan Kobowre di Nabire, Pegunungan Sudirman di Enarotali dan Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya di Jayawijaya, Pegunungan Vanres di Mamberamo, Pegunungan Gauntier dan Pegunungan Wisnumurti.

      2.5 Iklim dan Cuaca
                Kota Jayapura merupakan daerah dengan suhu udara tertinggi, mencapai 28,2 ºC ditahun 2005 sedangkan Wamena merupakan daerah dengan suhu udara terendah yang mencapai 19,4 ºC pada tahun 2004. Persentase kelembaban udara tertinggi mencapai 87% di Biak pada tahun 2005 dan terendah mencapai 77% di Serui pada tahun 2001. Rata-rata penyinaran matahari tercatat di Merauke yang mencapai 70% pada tahun 2005 sedangkan persentase terendah tercatat pada tahun 2003 di Biak yang mencapai 37%.
3.      Papua Barat
3.1 Luas Wilayah
             Provinsi Papua Barat memiliki luas wilayah 115.363,50 km2 dengan Kabupaten Teluk Bintuni merupakan kabupaten terluas yaitu 18.658 km2 atau 16,17 persen dari total luas wilayah Provinsi Papua Barat dan Kota Sorong merupakan kabupaten dengan luasan terkecil yaitu 1.105 km2.
    
 3.2 Letak Geografis
              Provinsi Papua Barat terletak antara 00,0" - 40,0" Lintang Selatan dan 1240,00" - 1320,0" Bujur Timur, tepat berada dibawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0 - 100 meter dari permukaan laut.
      3.3 Batas Wilayah
             Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah :
Sebelah Utara         : Samudera Pasifik
Sebelah Selatan       : Laut Banda  Provinsi Maluku
Sebelah Barat         : Laut Seram Provinsi Maluku
Sebelah Timur         : Provinsi Papua
      3.4 Topografi
              Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10 - 100 m diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lain yang terdapat di Provinsi Papua Barat  berkisar antara 10 - 50 m diatas permukaan laut.  Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat Kabupaten Sorong dilintasi oleh 14 sungai dengan panjang keseluruhan 3.586 km atau sebesar 78,08 persen dari total panjang sungai se Provinsi Papua Barat.
             Berdasarkan penggunaannya sebagian besar lahan bukan sawah di Provinsi Papua Barat diperuntukkan untuk tahun 2004 mengalami penurunan.
      3.5 Iklim dan Cuaca
                 Berdasarkan hasil pencatatan suhu udara pada beberapa Stasiun yang berada di Kabupaten/Kota se- Provinsi Papua Barat pada tahun 2005 menunjukkan bahwa suhu rata-rata tertinggi terjadi di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong yaitu sebesar 27,70
derajat celsius dan suhu udara rata-rata terendah berada di Kabupaten Fakfak yang hanya berkisar 14,50 derajat celsius (Tabel 5.)
              Provinsi Papua Barat mempunyai kelembaban udara yang hampir sama antar Kabupaten/Kota yaitu berkisar pada 83,67 persen sampai 85 persen, dimana angka terendah terjadi di Kabupaten Manokwari dan yang paling tinggi di Kabupaten Fakfak.
              Tekanan udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat seperti yang disajikan pada Tabel 6 menunjukkan  bahwa kabupaten Sorong dan Kota Sorong mempunyai tekanan udara rata-rata tertinggi yaitu sebesar 1.010,7 mbs, sementara tekanan udara rata-rata terendah terjadi di kabupaten Fakfak dengan tekanan udara rata-rata sebesar 994,31 mbs.
               Sepanjang tahun 2005 curah hujan dibeberapa wilayah di Provinsi Papua Barat tecatat bahwa curah hujan tertinggi terjadi di Kabupaten Fakfak yaitu sebesar 3.209 mm. Sementara curah hujan terendah terjadi di Kabupaten Kaimana yang curah hujannya hanya mencapai 127 mm.
4. Unsur-unsur Kebudayaan Papua
              Papua mempunyai unsur-unsur kebudayaan seperti sistem bahasa, peralatan hidup dan teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan hidup, sistem kekerabatan, ilmu pengetahuan, kesenian dan religi.
        4.1 Sistem Bahasa
             Pulau papua sangatlah luas yang membuat beraneka macam bahasa yang mereka miliki. Tetapi bahasa tersebut sudah mulai tercampur atau beralkulturasi dengan bahasa melayu yang terdapat pada pendududk sekitar pulau papua. Selama berabad-abad penduduk asli papua telah menjalin suatu hubungan interaksi sosial dengan penduduk yang berdekatan dengan pulau paua seperti maluku, dan sulawesi.Selama kurun waktu tersebut, orang-orang dari pulau terdekat yang kemudian datang dan menjadi bagian dari Indonesia yang modern, menyatukan berbagai keragaman budaya  di pulau papua.

               Hal ini tentunya membutuhkan interaksi yang cukup baik dan waktu yang tidak sebentar agar para penduduk di Papua bisa belajar bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, apalagi mengingat keaneka-ragaman bahasa yang mereka miliki. Pada tahun 1963, dimana dari sekitar 700.000 populasi penduduk yang ada, 500.000 diantara mereka berbicara dalam 200 macam bahasa yang berbeda dan tidak difahami antara satu dengan yang lainnya. Beragamnya bahasa diantara sedikitnya populasi penduduk tersebut diakibatkan karena terbentuknya kelompok-kelompok yang diisolasi oleh perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya selama berabad-abad yang disebabkan oleh kepadatan hutan dan juga jurang yang curam yang sulit untuk dilalui yang memisahkan mereka, oleh karena itu sekarang ini ada sebanyak 234 bahasa pengantar di Papua, dua dari bahasa kedua tanpa pembicara asli. Banyak dari bahasa ini hanya digunakan oleh 50 atau kurang pemakainya. Di Papua juga terdapat bahasa ‘mapia’ yang hanya digunakan oleh 1 orang, sementara bahasa ‘tandia’ pleh 2 orang.
           Sekarang ini bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa pengantar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan merupakan bahasa didalam melakukan berbagai transaksi. Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa melayu yang sudah mengalami perubahan yang disebabkan pada zaman kolonial.
        4.2 Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
           Untuk bertahan hidup masyarakat papua itu salah satunya menggunakan sejata yang disebut pisau belati dan tombak , pisau belati dan tombak itu biasanya digunakan untuk mencari bahan makanan di hutan atau kebun dan untuk berburu. Selain itu untuk berkebun masyarakat papua sering menggunakan peralatan sederhana yaitu tongkat kayu berbentuk linggis  dan kapak batu.
             Cara untuk bertahan hidup lainnya selain menggunakan senjata yang di atas. masyarakat papua membangun rumah, rumah tersebut adalah rumah honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Rumah honai mempunyai pintu kecil dan tidak mempunyai jendela tujuannya adalah untuk melindungi mereka dari hewan liar dan menahan hawa dingin yang bersal dari pegunungan papua.
  
  4.3 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian Hidup
              Mata pencaharian hidup yang terpenting dari orang Bgu adalah meramu sagu (pom). Hutan-hutan sagu yang sekarang berada pada kira-kira tiga sampai lima kilometer jauhnya dari desa-desa. Di daerah pedalaman di hulu-hulu sungai, seperti di daerah hulu Tor misalnya, pekerjaan mencari sagu itu merupakan pekerjaan wanita, adapun pekerjaan orang laki-laki adalah mencari hasil hutan dan sedikit berkebun. Sedangkan mencari ikan adalah pekerjaan laki-laki maupun wanita. Berburu juga merupakan suatu mata pencaharian penting yang exlusif dilakukan oleh oleh orang laki-laki.
               Untuk lebih menggambarkan Mata Pencaharian hidup masyarakat Papua, kami mengambil contoh dari daerah papua yang relatif lebih maju dan daerah terasing: untuk daerah papua yang maju kami mengambil contoh daerah Kabupaten Jayawijaya kecamatan Wawena. (1990: hlm.15 ), mata pencaharian pokok penduduk pada kecamatan ini adalah bertani, yang masih bersifat liar dan berpindah-pindah. Mereka mengelola tanah secara bergotong royong. Tanama pokok adalah ubi jalar yang merupakan makanan pokok mereka. Disamping ubi jalar mereka juga menanam sayur-=sayuran seperti: kol, wortel, buncis, kacang panjang, kentang dan lain sebagainya. Sedangkan untuk menggambarkan daerah papua yang terasing kami mengambil contoh dari daerah pegunuingan Jayawijaya yaitu masyarakat Dani. Dalam bukunya (1990: hlm. 282-166),Koentjaraningrat menguraikan bahwa di sekitar orang Dani selalu ada babi dan ubi manis (Disocorea esculanta). Secara implisit ucapan ini menunjukan dua jenis mata pencaharian pokok orang Dani. Ubi manis adlah jenis tanaman utama dalam kebun-kebun orang Dani, yang menurut perkiraan merupakan 90% makanan mereka. Dengan peralatan yang masih sederhana, yaitu tongkat kayu berbentuk lin ggis dan kampak batu.tanah halaman mereka biasanya ditanami tembakau,pisang, dan tebu. Setelah tanah itu ditinggalkan, lalu mereka membuka kebun yang baru di bidang tanah lain. Dalam kurun waktu tertentu tanah bekas kebun lama yang kembali ditumbuhi pohon dan belukar itu dapat dibuka lagi setelah kesuburannya pulih kembali.
     

  4.4 Sistem Kekerabatan
               Koentjaraningrat (2004: 78) Suatu rumah di desa Daerah Pantai Utara biasanya didiami oleh satu keluarga-batih, kadang-kadang ditambah dengan beberapa kerabat lain, ialah seorang ibu atau ayah yang tua, menantu dan cucu-cucu atau sodara perempuan isteri dengan suaminya. Demikian walaupun komposisi kerabat yang merupakan suatu rumah tangga itu kadang-kadang bersifat keluarga luas, namun kalau diambil rata-rata jumlah anggota rumah tangga disana, angkanya tetap kecil, ialahkira-kira 4 orang. Seorang kepala  keluarga-batih tercatat dalam buku gereja, yang sekalian juga merupakan suatu buku register desa dengan suatu nama Kristen, misalnya Huber Barge. Seperti dalam masyarakat orang Eropah, orang Bgu mendapat nama keluarga dari ayahnya. Anak-anak Huber Bagre juga mendapat nama Barge dengan nama Kristen, menjadi misalnya Wempi Barge. Dengan demikian tampak di desa-desa Bgu dan juga di desa-desa di Pantai Utara pada umunnya, golongan-golongan orang atau kolektifa kolektifita dengan nama yang sama, yang seolah-olah merupakan kelompok-kelompok kekerabatan atau klen-klen patrilineal yang kecil.
        4.5 Ilmu Pengetahuan atau Pendidikan
             Koentjaraningrat (2004: 92) Kabupaten jayawijaya pada tahun ajaran 1986/1987 terdapat 3 buah TK dengan 6 buah ruang belajar dan menampung 179 orang murid, dengan jumlah tenaga guru 8 orang, guru tetap 2 orang dan 6 guru tidak tetap. Sampai saat ini TK tersebut masih berstatus swasta. Jumlah SD sebanyak 305 buah terdiridari 226 negeri dan 79 swasta dengan jumlah ruang belajar 1.352 buah, jumlah murid 31.313 orang, tenaga pengajar 1176 orang. Sekolah Menengah Tingkat Pertama terdapat 22 buah SMP terdiri dari 14 negeri dan 8 swasta, dengan memiliki 99 ruang belajar dan menampung 4.463 murid, dan jumlah tenaga pengajar sebanyak 245 orang guru tetap dan tidak tetap. Sekolah Menengah Tingkat Atas sebanyak 4 buah, terdiri dari 1 buah SMA Negeri, 2 SPG swasta dan 1 SMEA swasta yang seluruhnya memiliki 17 ruang belajar, dan menampung 1.923 orang sisiwa, dengan jumlah tenaga pengajar 8 orang guru tetap dan 30 orang guru tidak tetap.
Masalah Pendidikan

             Ciri-ciri mental yang bersifat merintangi pembanguan dan kemajuan itu, memang hanya dapat dirubah dengan amat lambat dan di dalam ini pendidikan merupaka salah satu alat yang terpenting. Sayang sekali bahwa pada umumnya taraf pendidikan sekolah di Distrik pantai utara masih terlampau rendah. Ada suatu gejala kekurangan guru yang menyebabkan bahwa dalam beberapa tahun lamanya. Adapun guru-guru yang ada, adalah guru-guru pribumi irian yang pendidikannya hanya cukup untuk mengajar disekolah-sekolah dasar tiga tahun, sehingga pendidikan disekolah-sekolah desa itu nanti akan menghasilkan gejala anak-anak canggung.
            Sebaliknya, untuk menarik guru-guru itusupaya di up-grade dan diberi pendidikan-pendidikan tambahan yang tentunya akan makan waktu beberapa tahun, akan menambah lowongan-lowongan yang ada susahnya, lowongan-lowongan itu sukar untuk diisi dengan guru-guru bukan pribumi Irian, misalnya oleh sukarelawan pendidikan, karena betapa pun bersemangatnya mereka itu, mereka tidak akan dapat hidup dalam masyarakat-masyarakat desa pantai utara itu. Gru-guru sukarelawan juga tidak bisa makan makanan Indonesia bagian Barat, karena hal itu akan menimbulkan masalah logistik yang amat sulit. Toko-toko di desa-desa pantai amat jarang, sehingg ada desa-desa yang letaknya sampai empat hari berjalan bolak-balik dari sebuah toko. Kalau seorang guru harus harus pergi empat hari hanya untuk belanja, belum diperhitungkan masalah mengangkut barang belanjaannya yang harus dipikul diatas punggung manusia yang pada jarak 50 Km sehari secara maksimal hanya bisa mengangkat 30 Kg, maka kita bisa membayangkan betapa besar kesukaran supply itu baginya, Memang masalah memajukan pendidikan sekolah juga erat bersangkutan dengan masalah menghapuskan isolasi fisik.
        4.6 Kesenian
               Terdapat beberapa kesenian di Papua seperti alat musik, tari-tarian dan berbagai macam musik tradisional lainnya.
                4.6.1 Rumah Adat
(http://www.wahana-budaya-indonesia.com/ )  menyatakan  :

Rumah adat Masyarakat Papua, atau yang biasa disebut dengan Honai.
               Honai adalah rumah khas Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Sebenarnya, struktur Honai dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua.
               Honai terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena dibangun 2 lantai, Honai memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).
               4.6.2 Senjata Tradisional
(http://id.wikipedia.org/wiki/Papua) menyatakan :
              Salah satu senjata tradisional di Papua adalah Pisau Belati. Senjata ini terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan bulunya menghiasi hulu Belati tersebut. senjata utama penduduk asli Papua lainnya adalah Busur dan Panah. Busur tersebut dari bambu atau kayu, sedangkan tali Busur terbuat dari rotan. Anak panahnya terbuat dari bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu atau berperang.
              Salah satu senjata tradisional di Papua lainnya yang cukup terkenal dan menjadi senjata utama adalah adalah Busur dan Panah.  Busur tersebut  terbuat dari sekang bambu atau kayu, sedangkan tali Busurnya terbuat dari sekang rotan. Anak panahnya terbuat dari sekang bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu atau berperang. Selain ketiga senjata di atas tameng juga merupakan alat adat yang

dipergunakan untuk pertahanan perang. Konsep tameng ini selanjutnya dipergunakan untuk aparat
               4.6.3 Tari-tarian
            Tarian ini melambangkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua. Biasanya tarian ini di bawakan ketika kepala suku memerintahkan para prajurit untuk berperang, dengan tarian ini semangat prajurit dapat semakin berkobar. Namun seiring perkembangan zaman dan peraturan pemerintah yang melarang keras adanya peperangan antar suku, tarian ini kini hanya menjadi tarian penyambut tamu undangan.Ditarikan oleh 16 laki-laki dan 2 perempuan, mereka menari dengan iringan tifa dan lantunan lagu-lagu perang pembangkit semangat. Panas mentari Papua yang menyengat tidak memudarkan semangat mereka untuk terus menari dan menabuh musik pukul yang menjadi ikon Papua tersebut.Dengan mengenakan busana tradisional, dengan manik-manik penghias dada,rok terbuat dari akar, dan daun-daun yang disisipkan pada tubuh menjadi bukti kecintaan masyarakat Papua pada alam. (disadur dari berbagai sumber).-4.269928,138.080353
               4.6.4 Alat Musik
(http://terselubung.blogspot.com) menyatakan :
             Tifa adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, Tifa mirip seperti gendang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Terbuat dari sebatang kayu yang dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk menghasilkan suara yang bagus dan indah. bentuknyapun biasanya dibuat dengan ukiran. tiap suku di maluku dan papuamemiliki tifa dengan ciri khas nya masing-masing.
            Tifa biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang, Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. rian ini biasanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting lainnya.

               4.6.5 Makanan Tradisional
(http://www.jalanjalanyuk.com/sagu-makanan-khas-papua/) menyatakan :
         Hamparan tanaman sagu di Papua, diperkirakan adalah yang terluas di dunia, denagn menguasai 85 persen total luas tanaman sagu di seluruh Indonesia. Papua adalah propinsi penghasil sagu terbesar, dan luasnya tak kurang dari 700.000 hektar lahan sagu.
          Secara turun temurun, masyarakat Papua mampu memilih bibit sagu yang baik. Dan mereka secara tradisional bergantung kepada alam, serta mengolah sagu dengan tenaga manual. Alat-alatpun mereka ciptakan sendiri menyesuaikan dengan teknik pengolahan sagu yang mereka kuasai. Tak ada bantuan mesin, semuanya mereka kerjakan sendiri.
          Tanaman sagu sudah bisa dipanen jika berumur dua sampai tiga tahun. Dalam satu keluarga, mereka bergotong-royong memanen sagu, dan akan mendapatkan sekitar 150 hingga 300 kilogram sagu yang bisa memenuhi kebutuhan makanan mereka selama dua minggu hingga satu bulan. Awalnya, pohon sagu ditebang dan kemudian batangnya dikuliti. Dengan menguliti batang sagu tersebut, didapatkanlah intinya, yang merupakan sagu yang berada di dalam pohon.
           Inti pohon sagu tersebut kemudian dibelah hingga didapatkan ukuran yang lebih kecil. Setelah itu, diambil dan ditumbuk. Penumbukan sagu dilakukan dengan alat yang disebut pangkur. Pangkur ini bentuknya lancip, mirip dengan tombak pada ujungnya. Berbentuk menyerupai cangkul yang berfungsi menghancurkan sagu menjadi potongan kecil-kecil menyerupai serat. Yang selanjutnya kemudian dicampur dengan air. Pada proses selanjutnya, sagu akan mengendap dan memisahkan diri dari air, endapan tersebut yang akan dipadatkan dan dibentuk seperti bola atau lontong dan disimpan dalam wadah-wadah khusus.

        4.7 Sistem Religi atau Agama
Walaupun secara resmi orang penduduk Pantai Utara beragama kristen, namun tanggapan dunia gaib dan dunia akhirat masih banyak berasal dari religi mereka yang asli. Konsepsi mengenai dunia akhirat misalnya adalah sebagai berikut: jiwa orang mati (fonggumu = pikiran) melepaskan diri dari tubuh dan menjadi roh (kepka) dalam waktu yang berangsur-angsur.  Dalam proses itu ia masih berada sekitar rumah tempat tinggalnya. Itulah sebabnya keluarga si wafat diasingkan dalam rumah supayatidak menulari masyarakatdengan suasana kewafatan dan kepka dari si wafat itu. Kalu sudah terlepas dari dan bebas dari ikatan dunia yang fana ini., roh pergi ke alam baka yang katanya berupa suatu gunung bernama tardongsau, di dalam hutan rimbanya di daerah hulu sungai. Lain-lain orang yang sudah tebal agama kristennya berkata, bahwa kepka akan pergi menghadap tuhan yesus. Desa roh di gunung tardongsau dibanyangkan sebagai suatu desa dimana roh itu hidup tepat serupa dengan di dunia fana ini. Bahkan mereka yang sudah bicara tentang sorga, seperti yang diajarkan oleh kristen,  kalu ditanya terbukti masih juga membayangkan kehidupan sorga seperti kehidupan di dunia ini, hanya lebih bahagia dan bersama dengan ppara kdo, nenek moyang.
Untuk  menggambarkan religi yang dianut masyarakat papua, kami mengambil contoh dari daerah papua yang relatif lebih maju dan daerah terasing: untuk daerah papua yang maju kami mengambil contoh daerah Kabupaten Jayawijaya kecamatan Wawena. (1990: hlm. 17-18), tachier menguraikan penduduk asli Kabupaten Jayawijaya sebagian besar memeluk agama Kristen Protestan, Roma Khatolik dan islam. Semua hukum atau ketentuan-ketentuan agama yang dianut selalau dituruti dengan baik, seperti pada hari minggu mereka tidak bekerja tetapi harus ke gereja. Bila tidak dapat ke gereja. Bila tidak dapat ke gereja, mereka lebih baik istirahat, dirumah atau honaydan agama islam terdapat pada desa Walesi, dan di daerah ini sudah dibangun sebuah mesjid tempat beribadah khusus untuk penduduk asli daerah tersebut. Namun demikian toleransi beragama cukup baik dan hidup saling menghargai antara penganut agama satu dengan lainya. Untuk daerah papua yang terasing kami mengambil contoh daerah pegunungan jayawijaya yaitu masyarakat dani.

Dalam bukunya (1990: hlm. 282-166),Koentjaraningrat menguraikan dasar dari religi orang Dani adalah penghormatan ruh nenek-moyang, yang upacaranya dipusatkann pada pesta babi. Orientasi dan konsep-konsep serta kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya ditunjukan pada kesejahteraan hidup dan peperangan. Konsep keagamaan yang terpenting adalah atou, yaitu kekuatan sakti para nenek-moyang yang diturunkan secara patrilineal. Kekuatan sakti itu dapat diturunkan kepada anak-anak pria maupun wanita, namun wanita tidak dapat meneruskan kepada keturunannya. Kekuatan tersebut antara lain dapat digunakan untuk menjaga kebun pemiliknya terhadap pelanggaran-pelanggaran denagan memasang suatu tanda khusus. Orang yang melanggarnya diyakini akan mengalami celaka, mereka yang diakui orang Dani sebagai nenek-moyang pada umunya adalah manusia-manusia yang nyata dan pernah mereka kenal (walaupun samar-samar), yang menurunkan mereka melalui garis patrilineal tiga atau empat angkatan di atas mereka.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut:
1.         Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea.
2.         Papua mempunyai unsur-unsur kebudayaan seperti sistem bahasa, peralatan hidup dan teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan hidup, sistem kekerabatan, ilmu pengetahuan, kesenian dan religi.

B.        Saran
          Sejalan dengan simpulan diatas, penulis merumuskan saran sebagai berikut:
1.         Sebagai seorang warga negara kita wajib memahami kebudayaan yang multikultural ini terlebih untuk saling menghargai perbedaan antar budaya.
2.         Sebagai calon pendidik profesional hendaknya mempelajari serta memahami budaya-budaya yang ada di Indonesia contohnya saja budaya Papua.

                                    DAFTAR PUSTAKA
Data Geografis. [Online].Tersedia http://pemkam.papua.go.id/?menu=geografis.
Geografis Papua Barat. [Online].Tersedia http://www.batukar.info/wiki/geografis-papua-barat.
Koentjaraningrat (2004). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta : Djambatan
Koentjaraningrat (1990). Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta
Papua. (2012). [Online].Tersedia http://id.wikipedia.org/wiki/Papua.
Tachier. A. (1990). Pola Pengasuhan Anak Pada Masyarakat Pedesaan. Jakarta
Tari Perang Papua. [Online].Tersedia http://www.indonesiabox.com/tari-perang-papua/.
Tifa Alat Musik dari Papua. [Online].Tersedia http://terselubung.blogspot.com.
Sagu Makanan Khas Papua. [Online].Tersedia http://www.jalanjalanyuk.com/sagu-makanan-khas-papua/
Senjata adat Papua.(2011). [Online].Tersedia http://zipoer7.wordpress.com.