Bahasa anak “alay” VS “Bahasa Ibu”
Oleh : Rina Meidawati
Bahasa merupakan sistem komunikasi yang dilakukan
manusia. Bisa terdiri dari bahasa lisan maupun bahasa isyarat (Wikipedia, 2012).
Manusia berinteraksi sosial melalui bahasa yang mereka gunakan. Bahasa berubah
dan bervariasi sepanjang waktu. Seperti halnya di Indonesia, yang memiliki
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa daerah yang dimiliki
daerah-daerahnya. Bahasa menjadi begitu penting karena pengaruhnya yang
berdampak luas.
Begitu beragamnya bahasa-bahasa di setiap daerahnya
hingga mencapai ratusan. Bahasa daerah merupakan kata lain dari bahasa ibu. Bahasa
Ibu yang merupakan bahasa pertama yang dipelajari seseorang, karena seorang
anak biasanya belajar bahasa pertama dari kelurga mereka, seperti halnya di
Jawa Barat tentunya bahasa ibunya merupakan bahasa sunda.
Mengapa bahasa ibu menjadi penting? Karena bahasa Ibu
merupakan cerminan daerah tersebut seperti bahasa Indonesia yang menjadi bahasa
Persatuan atau pemersatu dari sekian banyak bahasa daerah yang ada, sering terdengar bahwa bahasa merupakan Jati
Diri Bangsa atau Identitas Bangsa. Bahasa ibu juga merupakan bahasa kedua
setelah bahasa Indonesia.
Fenomena yang menyangkut bahasa tidak akan ada habisnya
karena bahasa akan terus berkembang dari generasi ke generasi. Bagaimana dengan
bahasa alay yang sedang marak di kalangan remaja? Sampai saat ini bahasa
tersebut masih banyak yang memakai. Bukan hanya bahasa, tulisan bahkan gaya
hidup yang mungkin bisa dikatakan alay marak digunakan remaja. Sebenarnya alay
itu apa?
Alay merupakan singkatan dari anak layangan yaitu
orang-orang kampung yang bergaya norak. alay merupakan suatu fenomena yang
terjadi pada sekelompok remaja minoritas dan memiliki karakteristik yang unik.
Namun bahasa yang mereka gunakan terkadang mengganggu penglihatan dan
pendegaran bagi yang melihat atau membacanya. Alay sering diidentikkan dengan
hal-hal yang norak dan narsis dan bahasa alay adalah bagian dari bahasa yang
digunakan suatu komunitas tertentu unutk berkomunikasi dan menyebar di
masyarakat. (Bramantio, 2012).
Kemunculan bahasa alay berkembang sejak masuknya
teknologi layanan pesan singkat atau sms. Keterbatasan karakter membuat mereka
harus menyingkat isi SMS. Lalu berkembang lagi semenjak kemunculan situs
pertemanan Friendster, lalu Facebook yang membuat mereka semakin bebas
berekspresi agar menarik perhatian pembaca. Dari mulai tampilai desain,
kata-kata sampai pada foto.
Sebagai contoh, menurut Heri bahasa alay bisa
dikarakteristikan : Karasteristik Bahasa Alay Seiring dengan semakin
banyaknya penggunaan bahasa alay pada kalangan remaja, variasi atau
karasteristiknya pun semakin beragam. Antara lain:
a.Pemakaian huruf
besar kecil yang berantakan dalam satu kalimat,
contohnya: “kaMu Lagi nGapaiN?”
b.Penggunaan angka
sebagai pengganti huruf,
contohnya: “k4mu L49i n94p4in?”
c.Penambahan atau
pengurangan huruf-huruf dalam satu kalimat,
contohnya: “amue agie ngapaein?”
d.Menambahkan atau
mengganti salah satu huruf dalam kalimat,
contohnya: “xmoe agie ngaps?”
e.Penggunaan
simbol-simbol dalam kalimat,
contohnya: “k@mu L@g! nG@p@!n?”
Tidak sedikit remaja yang menggunakan bahasa alay, baik
dari tulisan maupun lisan. Hal ini merupakan suatu yang hal yang menyedihkan
dalam penggunaan bahasa di kalangan remaja khususnya Jawa Barat. Padahal sudah
seharusnya remaja yang sebagai generasi penerus bangsa dan bahasa melestarikan kebudayaan
maupun bahasa daerahnya.
Dalam bahasa Indonesia, bahasa Ibu atau spesifiknya
bahasa Sunda harus mampu menunjukkan eksistensinya. Penting disadari sebab jika
tidak dilestarikan sedikit demi sedikit akan tergerus oleh zaman.
Kalau kita melihat fakta di lapangan, kepedulian mengenai
bahasa ibu atau bahasa sunda tersebut masih sangat kurang. Ditambah dengan
belum ada kemauan untuk menggunakan dan meningkatkan bahasa sunda. Tidak
sedikit yang mengakunya orang sunda akan tetapi tidak bisa sama sekali bahasa
sunda. Yang lebih miris lagi remaja saat ini lebih menggunakan bahasa Indonesia
akan tetapi itupun tidak dengan sesuai kaidah kebahasaan yang seharusnya.
Kecenderungan remaja yang menggunkan bahasa Indonesia
mengakibatkan bahasa Sunda tidak dioptimalkan. Memakai bahasa daerah seolah
membuat mereka menjadi norak. Apalagi dilihat dari tingkat kesulitan dari
bahasa Sunda yang mengakibatkan remaja kurang menggunakan bahasa daerahnya.
Menurut penulis hal ini disebabkan oleh remaja
menggunakan bahasa alay karena umur muda mereka yang tergolong labil dan ingin
tampak terlihat keren pada zamannya dan mengapa mereka kurang menggunakan
bahasa Ibu atau bahasa Sunda adalah karena faktor kebiasaan dan tingkat kesulitan.
Menurut Panitia Khusus Tatang Sutaris mengatakan, ‘bahasa
Sunda di Kota Bandung sudah jarang digunakan dan dikhawatirkan punah sehingga
dibuatlah Peraturan Daerah Penggunaan, Pemeliharaan, dan Pengembangan Bahasa,
Sastra dan Aksara Sunda (Perda Bahasa Sunda)’.
Upaya pemakaian bahasa Ibu akan menjadi wacana saja
ketika tidak diimbangi dengan pelaksanaannya. Akan lebih baik jika hal tersebut
bukan hanya slogan saja tetapi dijalai oleh setiap generasi agar tetap terjaga.
Ada beberapa saran yang sebaiknya dilakukan untuk
menjadikan generasi muda lebih baik. Suatu keuntungan bahwa bahasa alay tidak
bisa dilestarikan karena pergeseran waktu serta pergaulan anak muda yang
semakin cepat dan tidak bisa dibatasi, untuk itu mudah sekali bahasa alay yang
sering diucapkan tersebut hilang seiring waktu, serta banyak juga para pemuda
maupun remaja yang jarang mengikuti bahasa alay atau bahasa yang menurut mereka
gaul pada zamannya itu.Toh mereka masih bisa berkomunikasi dengan baik dan
tetap tidak tersisihkan di komuitasnya. Menurut Iben ‘para kaum muda pengguna
bahasa alay dalam pergaulan akan menyadari kesalahan mereka seiring pertambahan
usia.
Pertama, dalam dunia pendidikan guru diwajibkan
menekankan dan memberi contoh yang baik dengan membaca maupun menulis sesuai
EYD maupun KBBI.
Kedua, pada saat berkomunikasi harus bisa membedakan
lawan bicara dan situasinya.
Ketiga, mengurangi menyingkat kata dan mulai menulis
dengan kata-kata yang sesuai, banyak membaca tulisan bahasa Indonesia yang baik
dan benar,
Bahasa Ibu atau bahasa keseharian yang sering diucapkan
kepada anaknya itu sebenarnya mudah dilestarikan, tergantung kepada
perseorangan apa kelak akan terus memakainya atau tidak. Pemakaian bahasa Sunda
memang dirasa tidak mudah dilakukan jika tidak ada generasi penerus yang mau
mengembangkan. Bahasa berkaitan erat dengan kebiasaan dan budaya sebuah
generasi. Beberapa yang sebaikanya dilakukan agar bahasa Ibu tetap terjaga.
Pertama mengebelakangkan gengsi mengunakan bahasa daerah dan mulai sesekali menggunakan
bahsa Sunda yang baik. Kedua, di jejaring sosial tidak hanya mengupdate posting
terbaru tetapi menjadi ajang pembelajaran untuk bahasa sunda. Ketiga, dari Pemerintah
sendiri sudah sangat baik Perda mengadakan peraturan mengenai hari Rabu yang
diwajibkan untuk menggunakan bahsa sunda, juga ada baiknya di dukung dengan
mengadakan kegiatan kebudayaan Sunda secara rutin dan sebaiknya di dukung dalam
media elektroik dengan mengadakannya acara kesenian daerah serta di dukung oleh
media cetak yang memperbanyak majalah, novel dan komik menarik dalam bahasa
Sunda.
Bahasa Indonesia merupakah jati diri bangsa dan bahasa
daerah merupakan jati diri bangsa daerah.Alangkah baiknya sebagai generasi muda
kita melestarikan bahasa baik agar kepunahan tidak terjadi pada bahasa daerah.
*Penulis merupakan Mahasiswa aktif Prodi Pendidikan IPS,FPIPS UPI 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar