Senin, 01 April 2013



Bahasa anak “alay” VS “Bahasa Ibu”
Oleh : Rina Meidawati

Bahasa merupakan sistem komunikasi yang dilakukan manusia. Bisa terdiri dari bahasa lisan maupun bahasa isyarat (Wikipedia, 2012). Manusia berinteraksi sosial melalui bahasa yang mereka gunakan. Bahasa berubah dan bervariasi sepanjang waktu. Seperti halnya di Indonesia, yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa daerah yang dimiliki daerah-daerahnya. Bahasa menjadi begitu penting karena pengaruhnya yang berdampak luas.
Begitu beragamnya bahasa-bahasa di setiap daerahnya hingga mencapai ratusan. Bahasa daerah merupakan kata lain dari bahasa ibu. Bahasa Ibu yang merupakan bahasa pertama yang dipelajari seseorang, karena seorang anak biasanya belajar bahasa pertama dari kelurga mereka, seperti halnya di Jawa Barat tentunya bahasa ibunya merupakan bahasa sunda.
Mengapa bahasa ibu menjadi penting? Karena bahasa Ibu merupakan cerminan daerah tersebut seperti bahasa Indonesia yang menjadi bahasa Persatuan atau pemersatu dari sekian banyak bahasa daerah yang ada,  sering terdengar bahwa bahasa merupakan Jati Diri Bangsa atau Identitas Bangsa. Bahasa ibu juga merupakan bahasa kedua setelah bahasa Indonesia.
Fenomena yang menyangkut bahasa tidak akan ada habisnya karena bahasa akan terus berkembang dari generasi ke generasi. Bagaimana dengan bahasa alay yang sedang marak di kalangan remaja? Sampai saat ini bahasa tersebut masih banyak yang memakai. Bukan hanya bahasa, tulisan bahkan gaya hidup yang mungkin bisa dikatakan alay marak digunakan remaja. Sebenarnya alay itu apa?
Alay merupakan singkatan dari anak layangan yaitu orang-orang kampung yang bergaya norak. alay merupakan suatu fenomena yang terjadi pada sekelompok remaja minoritas dan memiliki karakteristik yang unik. Namun bahasa yang mereka gunakan terkadang mengganggu penglihatan dan pendegaran bagi yang melihat atau membacanya. Alay sering diidentikkan dengan hal-hal yang norak dan narsis dan bahasa alay adalah bagian dari bahasa yang digunakan suatu komunitas tertentu unutk berkomunikasi dan menyebar di masyarakat. (Bramantio, 2012).
Kemunculan bahasa alay berkembang sejak masuknya teknologi layanan pesan singkat atau sms. Keterbatasan karakter membuat mereka harus menyingkat isi SMS. Lalu berkembang lagi semenjak kemunculan situs pertemanan Friendster, lalu Facebook yang membuat mereka semakin bebas berekspresi agar menarik perhatian pembaca. Dari mulai tampilai desain, kata-kata sampai pada foto.
Sebagai contoh, menurut Heri bahasa alay bisa dikarakteristikan : Karasteristik Bahasa Alay Seiring dengan semakin banyaknya penggunaan bahasa alay pada kalangan remaja, variasi atau karasteristiknya pun semakin beragam. Antara lain:
      a.Pemakaian huruf besar kecil yang berantakan dalam satu kalimat,
         contohnya: “kaMu Lagi nGapaiN?”
      b.Penggunaan angka sebagai pengganti huruf,
         contohnya: “k4mu L49i n94p4in?”
      c.Penambahan atau pengurangan huruf-huruf  dalam satu kalimat,
         contohnya: “amue agie ngapaein?”
      d.Menambahkan atau mengganti salah satu huruf dalam kalimat,
         contohnya: “xmoe agie ngaps?”
      e.Penggunaan simbol-simbol dalam kalimat,
         contohnya: “k@mu L@g! nG@p@!n?”

Tidak sedikit remaja yang menggunakan bahasa alay, baik dari tulisan maupun lisan. Hal ini merupakan suatu yang hal yang menyedihkan dalam penggunaan bahasa di kalangan remaja khususnya Jawa Barat. Padahal sudah seharusnya remaja yang sebagai generasi penerus bangsa dan bahasa melestarikan kebudayaan maupun bahasa daerahnya.
Dalam bahasa Indonesia, bahasa Ibu atau spesifiknya bahasa Sunda harus mampu menunjukkan eksistensinya. Penting disadari sebab jika tidak dilestarikan sedikit demi sedikit akan tergerus oleh zaman.
Kalau kita melihat fakta di lapangan, kepedulian mengenai bahasa ibu atau bahasa sunda tersebut masih sangat kurang. Ditambah dengan belum ada kemauan untuk menggunakan dan meningkatkan bahasa sunda. Tidak sedikit yang mengakunya orang sunda akan tetapi tidak bisa sama sekali bahasa sunda. Yang lebih miris lagi remaja saat ini lebih menggunakan bahasa Indonesia akan tetapi itupun tidak dengan sesuai kaidah kebahasaan yang seharusnya.
Kecenderungan remaja yang menggunkan bahasa Indonesia mengakibatkan bahasa Sunda tidak dioptimalkan. Memakai bahasa daerah seolah membuat mereka menjadi norak. Apalagi dilihat dari tingkat kesulitan dari bahasa Sunda yang mengakibatkan remaja kurang menggunakan bahasa daerahnya.
Menurut penulis hal ini disebabkan oleh remaja menggunakan bahasa alay karena umur muda mereka yang tergolong labil dan ingin tampak terlihat keren pada zamannya dan mengapa mereka kurang menggunakan bahasa Ibu atau bahasa Sunda adalah karena faktor kebiasaan dan tingkat kesulitan.
Menurut Panitia Khusus Tatang Sutaris mengatakan, ‘bahasa Sunda di Kota Bandung sudah jarang digunakan dan dikhawatirkan punah sehingga dibuatlah Peraturan Daerah Penggunaan, Pemeliharaan, dan Pengembangan Bahasa, Sastra dan Aksara Sunda (Perda Bahasa Sunda)’.
Upaya pemakaian bahasa Ibu akan menjadi wacana saja ketika tidak diimbangi dengan pelaksanaannya. Akan lebih baik jika hal tersebut bukan hanya slogan saja tetapi dijalai oleh setiap generasi agar tetap terjaga.
Ada beberapa saran yang sebaiknya dilakukan untuk menjadikan generasi muda lebih baik. Suatu keuntungan bahwa bahasa alay tidak bisa dilestarikan karena pergeseran waktu serta pergaulan anak muda yang semakin cepat dan tidak bisa dibatasi, untuk itu mudah sekali bahasa alay yang sering diucapkan tersebut hilang seiring waktu, serta banyak juga para pemuda maupun remaja yang jarang mengikuti bahasa alay atau bahasa yang menurut mereka gaul pada zamannya itu.Toh mereka masih bisa berkomunikasi dengan baik dan tetap tidak tersisihkan di komuitasnya. Menurut Iben ‘para kaum muda pengguna bahasa alay dalam pergaulan akan menyadari kesalahan mereka seiring pertambahan usia.
Pertama, dalam dunia pendidikan guru diwajibkan menekankan dan memberi contoh yang baik dengan membaca maupun menulis sesuai EYD maupun KBBI.
Kedua, pada saat berkomunikasi harus bisa membedakan lawan bicara dan situasinya.
Ketiga, mengurangi menyingkat kata dan mulai menulis dengan kata-kata yang sesuai, banyak membaca tulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar,
Bahasa Ibu atau bahasa keseharian yang sering diucapkan kepada anaknya itu sebenarnya mudah dilestarikan, tergantung kepada perseorangan apa kelak akan terus memakainya atau tidak. Pemakaian bahasa Sunda memang dirasa tidak mudah dilakukan jika tidak ada generasi penerus yang mau mengembangkan. Bahasa berkaitan erat dengan kebiasaan dan budaya sebuah generasi. Beberapa yang sebaikanya dilakukan agar bahasa Ibu tetap terjaga. Pertama mengebelakangkan gengsi mengunakan bahasa daerah dan mulai sesekali menggunakan bahsa Sunda yang baik. Kedua, di jejaring sosial tidak hanya mengupdate posting terbaru tetapi menjadi ajang pembelajaran untuk bahasa sunda. Ketiga, dari Pemerintah sendiri sudah sangat baik Perda mengadakan peraturan mengenai hari Rabu yang diwajibkan untuk menggunakan bahsa sunda, juga ada baiknya di dukung dengan mengadakan kegiatan kebudayaan Sunda secara rutin dan sebaiknya di dukung dalam media elektroik dengan mengadakannya acara kesenian daerah serta di dukung oleh media cetak yang memperbanyak majalah, novel dan komik menarik dalam bahasa Sunda.
Bahasa Indonesia merupakah jati diri bangsa dan bahasa daerah merupakan jati diri bangsa daerah.Alangkah baiknya sebagai generasi muda kita melestarikan bahasa baik agar kepunahan tidak terjadi pada bahasa daerah.

*Penulis merupakan Mahasiswa aktif Prodi Pendidikan IPS,FPIPS UPI 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar