KEBUDAYAAN PAPUA
(Kajian Teoritis dan Aplikasinya dalam Pembelajaran)
MAKALAH
disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Kebudayaan Indonesia
Oleh
Nanda 1101082
Rina Meidawati 1102348
Sani 1105081
Yuliani 1100808
Yusuf 1101045
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. karena berkat rahmat dan
hidayahNya penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul ‘Kebudayaan
Papua’ ,makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Kebudayaan Indonesia.
Dalam
penyusunan tugas atau makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak
lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala
yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
Dosen
yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis
termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
Orang
tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.
Makalah
ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik
dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu,
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran
bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang
diharapkan dapat tercapai, Amin.
Bandung, Maret 2012
Penulis
Daftar Isi
Kata
Pengantar...........................................................................................................
Daftar
isi....................................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN........................................................................................
A.
Latar Belakang......................................................................................................
B.
Rumusan Masalah.................................................................................................
C.
Tujuan Pembuatan Makalah..................................................................................
D.
Manfaat Pembuatan Makalah...............................................................................
BAB
II ISI.................................................................................................................
1.
Letak Geografis dan Demografis...........................................................................
2.
Papua Timur...........................................................................................................
2.1 Luas Wilayah.................................................................................................
2.2 Letak Geografis.............................................................................................
2.3 Batas Wilayah................................................................................................
2.4 Topografi........................................................................................................
2.5 Iklim dan Cuaca.............................................................................................
3.
Papua Barat............................................................................................................
3.1
Luas Wilayah.......................................................................................................
3.2 Letak Geografis.............................................................................................
3.3 Batas Wilayah................................................................................................
3.4 Topografi........................................................................................................
3.5 Iklim dan Cuaca.............................................................................................
4.
Unsur-unsur Kebudayaan Papua............................................................................
4.1 Sistem Bahasa..............................................................................................
4.2 Sistem Peralatan Hidup dan
Teknologi........................................................
4.3 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Hidup...........................................
4.4 Sistem Kekerabatan.....................................................................................
4.5 Ilmu Pengetahuan........................................................................................
4.6 Kesenian.......................................................................................................
4.6.1 Rumah Adat......................................................................................
4.6.2 Senjata Tradisional.............................................................................
4.6.3 Tari-tarian...........................................................................................
4.6.4 Alat Musik.........................................................................................
4.6.5 Makanan Tradisional..........................................................................
4.7 Sistem Religi atau Agama............................................................................
BAB
III PENUTUP..................................................................................................
A.
Kesimpulan...........................................................................................................
B.
Saran......................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
papua merupakan
salah satu pulau terbesar di Negara Indonesia, karena luas pulau yang begitu
besar menyebabkan penyebaran penduduk yang begitu luas di daerah tersebut yang
menyebebkan banyaknya kultur budaya, bahasa, religi, interaksi sosial, matapencaharian,
sistem ekonomi dan pengetahuan yang berbeda di setiap daerah. Dan hal tersebut
membuat daya tarik pulau tersebut. Namun disayangkan karena banyaknya hal yang
berbeda tersebut menyebabkan seringnya timbul konflik antar suku.
Keragaman kultur budaya yang ada membuat
kita sadar akan kekayaan yang
dimili oleh Negara kita. Dan makalah ini dibuat agar kita bisa memahami dan
mengetahui beragam kultur budaya dan interaksi sosial apa saja yang ada pada
penduduk di daerah papua. Sehingga kita bisa memahami dan mempelajari 7 unsur
kebudayaan apa saja yang ada di daerah papua.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas , penulis merumuskan rumusan masalah sebagai
berikut.
1. Dimana letak geografis dan demografis wilayah Papua?
2. Dimana letak Papua Barat?
3. Dimana letak Papua Timur?
4. Apa saja unsur-unsur budaya Papua?
C. Tujuan penulisan Makalah
Sejalan
dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1. letak geografis dan demografis wilayah papua
2. letak Papua Barat
3. letak Papua Timur
4. Unsur-unsur budaya Papua
D. Manfaat penulisan Makalah
Makalah
ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun
secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai salah satu media
informasi dalam memahami bagaimana kehidupan di Papua. Secara praktis makalah
ini diharapkan bermanfaat bagi:
1.
Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan
untuk memahami unsur-unsur kebudayaan di Papua.
2.
Pembaca/dosen, sebagai media informasi tentang unsur-unsur
kebudayaan di Papua baik secara teoritis maupun secara praktis.
BAB II
ISI
1. Letak Geografis dan Demografis
http://id.wikipedia.org/wiki/Papua#Sejarah menyatakan:
Papua
adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau
Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya
merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea.
Provinsi
Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, sehingga sering disebut
sebagai Papua Barat terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), gerakan
separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara
sendiri. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal
sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah
berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia, wilayah
ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya
kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang
tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun
2002.
Nama
provinsi ini diganti menjadi Papua sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus Papua. Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan
Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh
pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian
baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian menjadi Papua
Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini.
2. Papua Timur
2.1 Luas Wilayah
Luas
wilayah provinsi Papua adalah 317. 062 (Km2). Jika dibandingkan dengan wilayah
Republik Indonesia, maka luas wilayah Provinsi Papua merupakan 19,33 persen
dari luas Negara Indonesia yang mencapai 1.890.754 (Km2). Ini merupakan
provinsi terluas di Indonesia.
Persentase
penduduk Papua jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia secara keseluruhan
tercatat sebesar 0.77% pada tahun 1971. Kemudian pada tahun 1980 meningkat
menjadi 0,79%. Tahun 1990 peningkatan persentase jumlah penduduk Papua sangat
tinggi yang mencapai 0,91%. Pada tahun 2000 mengalami penurunan menjadi 0.86%
dan terakhir pada tahun 2005, pesentase jumlah penduduk Papua tercatat sebanyak
0.85%.
Kabupaten
Merauke merupakan daerah yang terluas yaitu 4397 Ha atau 13,87% dari total luas
Provinsi Papua. Sedangkan Kota Jayapura merupakan daerah terkecil tetapi
apabila dibandingkan dengan kota se-Indonesia, maka Kota Jayapura merupakan
kota yang terluas. Kota Wamena (Jayawijaya) dengan ketinggian 2000 - 3000 meter
diatas permukaan laut merupakan kota tertinggi dan terdingin di Papua.
Sedangkan yang terendah adalah kota Merauke dengan ketinggian 3.5 meter diatas
permukaan laut.
2.2 Letak Geografis
Provinsi
Papua dengan luas 31.7062 Km2, terletak diantara 130° - 141°Bujur Timur dan
2°25' Lintang Utara - 9° Lintang Selatan.
2.3 Batas Wilayah
Provinsi
Papua berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Samudera
Fasifik/Pacific Ocean
Sebelah Selatan : Laut Arafura/Arafura Sea
Sebelah Barat : Provinsi Papua Barat
Sebelah Timur :Papua New Guinea
2.4 Topografi
Pegunungan
Utama di Provinsi Papua terdiri atas Pegunungan Kobowre di Nabire, Pegunungan
Sudirman di Enarotali dan Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya di Jayawijaya,
Pegunungan Vanres di Mamberamo, Pegunungan Gauntier dan Pegunungan Wisnumurti.
2.5 Iklim dan Cuaca
Kota
Jayapura merupakan daerah dengan suhu udara tertinggi, mencapai 28,2 ºC ditahun
2005 sedangkan Wamena merupakan daerah dengan suhu udara terendah yang mencapai
19,4 ºC pada tahun 2004. Persentase kelembaban udara tertinggi mencapai 87% di
Biak pada tahun 2005 dan terendah mencapai 77% di Serui pada tahun 2001.
Rata-rata penyinaran matahari tercatat di Merauke yang mencapai 70% pada tahun
2005 sedangkan persentase terendah tercatat pada tahun 2003 di Biak yang
mencapai 37%.
3. Papua Barat
3.1 Luas Wilayah
Provinsi
Papua Barat memiliki luas wilayah 115.363,50 km2 dengan Kabupaten Teluk Bintuni
merupakan kabupaten terluas yaitu 18.658 km2 atau 16,17 persen dari total luas
wilayah Provinsi Papua Barat dan Kota Sorong merupakan kabupaten dengan luasan
terkecil yaitu 1.105 km2.
3.2 Letak Geografis
Provinsi
Papua Barat terletak antara 00,0" - 40,0" Lintang Selatan dan
1240,00" - 1320,0" Bujur Timur, tepat berada dibawah garis
khatulistiwa dengan ketinggian 0 - 100 meter dari permukaan laut.
3.3 Batas Wilayah
Batas
geografis Provinsi Papua Barat adalah :
Sebelah Utara
: Samudera Pasifik
Sebelah Selatan
: Laut Banda Provinsi Maluku
Sebelah Barat
: Laut Seram Provinsi Maluku
Sebelah Timur
: Provinsi Papua
3.4 Topografi
Kabupaten
Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10 - 100 m diatas
permukaan laut, sedangkan kota-kota lain yang terdapat di Provinsi Papua
Barat berkisar antara 10 - 50 m diatas
permukaan laut. Berdasarkan data dari
Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat Kabupaten Sorong dilintasi oleh 14
sungai dengan panjang keseluruhan 3.586 km atau sebesar 78,08 persen dari total
panjang sungai se Provinsi Papua Barat.
Berdasarkan
penggunaannya sebagian besar lahan bukan sawah di Provinsi Papua Barat
diperuntukkan untuk tahun 2004 mengalami penurunan.
3.5 Iklim dan Cuaca
Berdasarkan hasil pencatatan suhu udara pada beberapa Stasiun yang
berada di Kabupaten/Kota se- Provinsi Papua Barat pada tahun 2005 menunjukkan
bahwa suhu rata-rata tertinggi terjadi di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong
yaitu sebesar 27,70
derajat celsius dan suhu udara rata-rata terendah
berada di Kabupaten Fakfak yang hanya berkisar 14,50 derajat celsius (Tabel 5.)
Provinsi
Papua Barat mempunyai kelembaban udara yang hampir sama antar Kabupaten/Kota
yaitu berkisar pada 83,67 persen sampai 85 persen, dimana angka terendah
terjadi di Kabupaten Manokwari dan yang paling tinggi di Kabupaten Fakfak.
Tekanan
udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat seperti yang disajikan pada
Tabel 6 menunjukkan bahwa kabupaten
Sorong dan Kota Sorong mempunyai tekanan udara rata-rata tertinggi yaitu
sebesar 1.010,7 mbs, sementara tekanan udara rata-rata terendah terjadi di
kabupaten Fakfak dengan tekanan udara rata-rata sebesar 994,31 mbs.
Sepanjang
tahun 2005 curah hujan dibeberapa wilayah di Provinsi Papua Barat tecatat bahwa
curah hujan tertinggi terjadi di Kabupaten Fakfak yaitu sebesar 3.209 mm.
Sementara curah hujan terendah terjadi di Kabupaten Kaimana yang curah hujannya
hanya mencapai 127 mm.
4. Unsur-unsur Kebudayaan Papua
Papua
mempunyai unsur-unsur kebudayaan seperti sistem bahasa, peralatan hidup dan
teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan
hidup, sistem kekerabatan, ilmu pengetahuan, kesenian dan religi.
4.1 Sistem Bahasa
Pulau
papua sangatlah luas yang membuat beraneka macam bahasa yang mereka miliki.
Tetapi bahasa tersebut sudah mulai tercampur atau beralkulturasi dengan bahasa
melayu yang terdapat pada pendududk sekitar pulau papua. Selama berabad-abad
penduduk asli papua telah menjalin suatu hubungan interaksi sosial dengan
penduduk yang berdekatan dengan pulau paua seperti maluku, dan sulawesi.Selama
kurun waktu tersebut, orang-orang dari pulau terdekat yang kemudian datang dan
menjadi bagian dari Indonesia yang modern, menyatukan berbagai keragaman
budaya di pulau papua.
Hal
ini tentunya membutuhkan interaksi yang cukup baik dan waktu yang tidak
sebentar agar para penduduk di Papua bisa belajar bahasa Melayu sebagai bahasa
pengantar, apalagi mengingat keaneka-ragaman bahasa yang mereka miliki. Pada
tahun 1963, dimana dari sekitar 700.000 populasi penduduk yang ada, 500.000
diantara mereka berbicara dalam 200 macam bahasa yang berbeda dan tidak
difahami antara satu dengan yang lainnya. Beragamnya bahasa diantara sedikitnya
populasi penduduk tersebut diakibatkan karena terbentuknya kelompok-kelompok
yang diisolasi oleh perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya selama
berabad-abad yang disebabkan oleh kepadatan hutan dan juga jurang yang curam
yang sulit untuk dilalui yang memisahkan mereka, oleh karena itu sekarang ini
ada sebanyak 234 bahasa pengantar di Papua, dua dari bahasa kedua tanpa
pembicara asli. Banyak dari bahasa ini hanya digunakan oleh 50 atau kurang
pemakainya. Di Papua juga terdapat bahasa ‘mapia’ yang hanya digunakan oleh 1
orang, sementara bahasa ‘tandia’ pleh 2 orang.
Sekarang
ini bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia, yang menjadi
bahasa pengantar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan merupakan bahasa didalam
melakukan berbagai transaksi. Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa
melayu yang sudah mengalami perubahan yang disebabkan pada zaman kolonial.
4.2 Sistem Peralatan Hidup dan
Teknologi
Untuk bertahan hidup masyarakat papua itu
salah satunya menggunakan sejata yang disebut pisau belati dan tombak , pisau
belati dan tombak itu biasanya digunakan untuk mencari bahan makanan di hutan
atau kebun dan untuk berburu. Selain itu untuk berkebun masyarakat papua sering
menggunakan peralatan sederhana yaitu tongkat kayu berbentuk linggis dan kapak batu.
Cara
untuk bertahan hidup lainnya selain menggunakan senjata yang di atas.
masyarakat papua membangun rumah, rumah tersebut adalah rumah honai terbuat
dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang.
Rumah honai mempunyai pintu kecil dan tidak mempunyai jendela tujuannya adalah
untuk melindungi mereka dari hewan liar dan menahan hawa dingin yang bersal dari
pegunungan papua.
4.3 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian Hidup
Mata
pencaharian hidup yang terpenting dari orang Bgu adalah meramu sagu (pom).
Hutan-hutan sagu yang sekarang berada pada kira-kira tiga sampai lima kilometer
jauhnya dari desa-desa. Di daerah pedalaman di hulu-hulu sungai, seperti di
daerah hulu Tor misalnya, pekerjaan mencari sagu itu merupakan pekerjaan
wanita, adapun pekerjaan orang laki-laki adalah mencari hasil hutan dan sedikit
berkebun. Sedangkan mencari ikan adalah pekerjaan laki-laki maupun wanita.
Berburu juga merupakan suatu mata pencaharian penting yang exlusif dilakukan
oleh oleh orang laki-laki.
Untuk
lebih menggambarkan Mata Pencaharian hidup masyarakat Papua, kami mengambil
contoh dari daerah papua yang relatif lebih maju dan daerah terasing: untuk
daerah papua yang maju kami mengambil contoh daerah Kabupaten Jayawijaya
kecamatan Wawena. (1990: hlm.15 ), mata pencaharian pokok penduduk pada
kecamatan ini adalah bertani, yang masih bersifat liar dan berpindah-pindah.
Mereka mengelola tanah secara bergotong royong. Tanama pokok adalah ubi jalar
yang merupakan makanan pokok mereka. Disamping ubi jalar mereka juga menanam
sayur-=sayuran seperti: kol, wortel, buncis, kacang panjang, kentang dan lain
sebagainya. Sedangkan untuk menggambarkan daerah papua yang terasing kami
mengambil contoh dari daerah pegunuingan Jayawijaya yaitu masyarakat Dani.
Dalam bukunya (1990: hlm. 282-166),Koentjaraningrat menguraikan bahwa di
sekitar orang Dani selalu ada babi dan ubi manis (Disocorea esculanta). Secara
implisit ucapan ini menunjukan dua jenis mata pencaharian pokok orang Dani. Ubi
manis adlah jenis tanaman utama dalam kebun-kebun orang Dani, yang menurut
perkiraan merupakan 90% makanan mereka. Dengan peralatan yang masih sederhana,
yaitu tongkat kayu berbentuk lin ggis dan kampak batu.tanah halaman mereka
biasanya ditanami tembakau,pisang, dan tebu. Setelah tanah itu ditinggalkan,
lalu mereka membuka kebun yang baru di bidang tanah lain. Dalam kurun waktu
tertentu tanah bekas kebun lama yang kembali ditumbuhi pohon dan belukar itu
dapat dibuka lagi setelah kesuburannya pulih kembali.
4.4 Sistem Kekerabatan
Koentjaraningrat
(2004: 78) Suatu rumah di desa Daerah Pantai Utara biasanya didiami oleh satu
keluarga-batih, kadang-kadang ditambah dengan beberapa kerabat lain, ialah
seorang ibu atau ayah yang tua, menantu dan cucu-cucu atau sodara perempuan
isteri dengan suaminya. Demikian walaupun komposisi kerabat yang merupakan
suatu rumah tangga itu kadang-kadang bersifat keluarga luas, namun kalau
diambil rata-rata jumlah anggota rumah tangga disana, angkanya tetap kecil,
ialahkira-kira 4 orang. Seorang kepala
keluarga-batih tercatat dalam buku gereja, yang sekalian juga merupakan
suatu buku register desa dengan suatu nama Kristen, misalnya Huber Barge.
Seperti dalam masyarakat orang Eropah, orang Bgu mendapat nama keluarga dari
ayahnya. Anak-anak Huber Bagre juga mendapat nama Barge dengan nama Kristen,
menjadi misalnya Wempi Barge. Dengan demikian tampak di desa-desa Bgu dan juga
di desa-desa di Pantai Utara pada umunnya, golongan-golongan orang atau
kolektifa kolektifita dengan nama yang sama, yang seolah-olah merupakan
kelompok-kelompok kekerabatan atau klen-klen patrilineal yang kecil.
4.5 Ilmu Pengetahuan
atau Pendidikan
Koentjaraningrat
(2004: 92) Kabupaten jayawijaya pada tahun ajaran 1986/1987 terdapat 3 buah TK
dengan 6 buah ruang belajar dan menampung 179 orang murid, dengan jumlah tenaga
guru 8 orang, guru tetap 2 orang dan 6 guru tidak tetap. Sampai saat ini TK
tersebut masih berstatus swasta. Jumlah SD sebanyak 305 buah terdiridari 226
negeri dan 79 swasta dengan jumlah ruang belajar 1.352 buah, jumlah murid
31.313 orang, tenaga pengajar 1176 orang. Sekolah Menengah Tingkat Pertama
terdapat 22 buah SMP terdiri dari 14 negeri dan 8 swasta, dengan memiliki 99
ruang belajar dan menampung 4.463 murid, dan jumlah tenaga pengajar sebanyak
245 orang guru tetap dan tidak tetap. Sekolah Menengah Tingkat Atas sebanyak 4
buah, terdiri dari 1 buah SMA Negeri, 2 SPG swasta dan 1 SMEA swasta yang
seluruhnya memiliki 17 ruang belajar, dan menampung 1.923 orang sisiwa, dengan
jumlah tenaga pengajar 8 orang guru tetap dan 30 orang guru tidak tetap.
Masalah Pendidikan
Ciri-ciri
mental yang bersifat merintangi pembanguan dan kemajuan itu, memang hanya dapat
dirubah dengan amat lambat dan di dalam ini pendidikan merupaka salah satu alat
yang terpenting. Sayang sekali bahwa pada umumnya taraf pendidikan sekolah di
Distrik pantai utara masih terlampau rendah. Ada suatu gejala kekurangan guru
yang menyebabkan bahwa dalam beberapa tahun lamanya. Adapun guru-guru yang ada,
adalah guru-guru pribumi irian yang pendidikannya hanya cukup untuk mengajar
disekolah-sekolah dasar tiga tahun, sehingga pendidikan disekolah-sekolah desa
itu nanti akan menghasilkan gejala anak-anak canggung.
Sebaliknya,
untuk menarik guru-guru itusupaya di up-grade dan diberi pendidikan-pendidikan
tambahan yang tentunya akan makan waktu beberapa tahun, akan menambah
lowongan-lowongan yang ada susahnya, lowongan-lowongan itu sukar untuk diisi
dengan guru-guru bukan pribumi Irian, misalnya oleh sukarelawan pendidikan,
karena betapa pun bersemangatnya mereka itu, mereka tidak akan dapat hidup
dalam masyarakat-masyarakat desa pantai utara itu. Gru-guru sukarelawan juga
tidak bisa makan makanan Indonesia bagian Barat, karena hal itu akan
menimbulkan masalah logistik yang amat sulit. Toko-toko di desa-desa pantai
amat jarang, sehingg ada desa-desa yang letaknya sampai empat hari berjalan
bolak-balik dari sebuah toko. Kalau seorang guru harus harus pergi empat hari
hanya untuk belanja, belum diperhitungkan masalah mengangkut barang
belanjaannya yang harus dipikul diatas punggung manusia yang pada jarak 50 Km
sehari secara maksimal hanya bisa mengangkat 30 Kg, maka kita bisa membayangkan
betapa besar kesukaran supply itu baginya, Memang masalah memajukan pendidikan
sekolah juga erat bersangkutan dengan masalah menghapuskan isolasi fisik.
4.6 Kesenian
Terdapat
beberapa kesenian di Papua seperti alat musik, tari-tarian dan berbagai macam
musik tradisional lainnya.
4.6.1 Rumah Adat
(http://www.wahana-budaya-indonesia.com/ ) menyatakan :
Rumah adat Masyarakat Papua, atau yang biasa disebut
dengan Honai.
Honai
adalah rumah khas Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Rumah Honai terbuat dari
kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai
mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Sebenarnya, struktur
Honai dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan
hawa dingin pegunungan Papua.
Honai
terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai
kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena
dibangun 2 lantai, Honai memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter. Pada bagian
tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan
diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut
Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).
4.6.2 Senjata Tradisional
(http://id.wikipedia.org/wiki/Papua) menyatakan :
Salah
satu senjata tradisional di Papua adalah Pisau Belati. Senjata ini terbuat dari
tulang kaki burung kasuari dan bulunya menghiasi hulu Belati tersebut. senjata
utama penduduk asli Papua lainnya adalah Busur dan Panah. Busur tersebut dari
bambu atau kayu, sedangkan tali Busur terbuat dari rotan. Anak panahnya terbuat
dari bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu
atau berperang.
Salah
satu senjata tradisional di Papua lainnya yang cukup terkenal dan menjadi
senjata utama adalah adalah Busur dan Panah.
Busur tersebut terbuat dari
sekang bambu atau kayu, sedangkan tali Busurnya terbuat dari sekang rotan. Anak
panahnya terbuat dari sekang bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah
dipakai untuk berburu atau berperang. Selain ketiga senjata di atas tameng juga
merupakan alat adat yang
dipergunakan untuk pertahanan perang. Konsep tameng
ini selanjutnya dipergunakan untuk aparat
4.6.3 Tari-tarian
http://www.indonesiabox.com/tari-perang-papua/ menyatakan:
Tarian
ini melambangkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua. Biasanya tarian ini
di bawakan ketika kepala suku memerintahkan para prajurit untuk berperang,
dengan tarian ini semangat prajurit dapat semakin berkobar. Namun seiring
perkembangan zaman dan peraturan pemerintah yang melarang keras adanya
peperangan antar suku, tarian ini kini hanya menjadi tarian penyambut tamu
undangan.Ditarikan oleh 16 laki-laki dan 2 perempuan, mereka menari dengan
iringan tifa dan lantunan lagu-lagu perang pembangkit semangat. Panas mentari
Papua yang menyengat tidak memudarkan semangat mereka untuk terus menari dan
menabuh musik pukul yang menjadi ikon Papua tersebut.Dengan mengenakan busana
tradisional, dengan manik-manik penghias dada,rok terbuat dari akar, dan
daun-daun yang disisipkan pada tubuh menjadi bukti kecintaan masyarakat Papua
pada alam. (disadur dari berbagai sumber).-4.269928,138.080353
4.6.4 Alat Musik
(http://terselubung.blogspot.com) menyatakan :
Tifa
adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, Tifa mirip seperti
gendang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Terbuat dari sebatang kayu yang
dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan
biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk
menghasilkan suara yang bagus dan indah. bentuknyapun biasanya dibuat dengan
ukiran. tiap suku di maluku dan papuamemiliki tifa dengan ciri khas nya
masing-masing.
Tifa
biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang,
Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. rian ini biasanya digunakan pada
acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting
lainnya.
4.6.5 Makanan Tradisional
(http://www.jalanjalanyuk.com/sagu-makanan-khas-papua/)
menyatakan :
Hamparan
tanaman sagu di Papua, diperkirakan adalah yang terluas di dunia, denagn
menguasai 85 persen total luas tanaman sagu di seluruh Indonesia. Papua adalah
propinsi penghasil sagu terbesar, dan luasnya tak kurang dari 700.000 hektar
lahan sagu.
Secara turun temurun, masyarakat Papua
mampu memilih bibit sagu yang baik. Dan mereka secara tradisional bergantung
kepada alam, serta mengolah sagu dengan tenaga manual. Alat-alatpun mereka
ciptakan sendiri menyesuaikan dengan teknik pengolahan sagu yang mereka kuasai.
Tak ada bantuan mesin, semuanya mereka kerjakan sendiri.
Tanaman
sagu sudah bisa dipanen jika berumur dua sampai tiga tahun. Dalam satu
keluarga, mereka bergotong-royong memanen sagu, dan akan mendapatkan sekitar
150 hingga 300 kilogram sagu yang bisa memenuhi kebutuhan makanan mereka selama
dua minggu hingga satu bulan. Awalnya, pohon sagu ditebang dan kemudian
batangnya dikuliti. Dengan menguliti batang sagu tersebut, didapatkanlah
intinya, yang merupakan sagu yang berada di dalam pohon.
Inti
pohon sagu tersebut kemudian dibelah hingga didapatkan ukuran yang lebih kecil.
Setelah itu, diambil dan ditumbuk. Penumbukan sagu dilakukan dengan alat yang
disebut pangkur. Pangkur ini bentuknya lancip, mirip dengan tombak pada
ujungnya. Berbentuk menyerupai cangkul yang berfungsi menghancurkan sagu
menjadi potongan kecil-kecil menyerupai serat. Yang selanjutnya kemudian
dicampur dengan air. Pada proses selanjutnya, sagu akan mengendap dan
memisahkan diri dari air, endapan tersebut yang akan dipadatkan dan dibentuk
seperti bola atau lontong dan disimpan dalam wadah-wadah khusus.
4.7 Sistem Religi atau Agama
Walaupun secara resmi orang
penduduk Pantai Utara beragama kristen, namun tanggapan dunia gaib dan dunia
akhirat masih banyak berasal dari religi mereka yang asli. Konsepsi mengenai
dunia akhirat misalnya adalah sebagai berikut: jiwa orang mati (fonggumu =
pikiran) melepaskan diri dari tubuh dan menjadi roh (kepka) dalam waktu yang
berangsur-angsur. Dalam proses itu ia
masih berada sekitar rumah tempat tinggalnya. Itulah sebabnya keluarga si wafat
diasingkan dalam rumah supayatidak menulari masyarakatdengan suasana kewafatan
dan kepka dari si wafat itu. Kalu sudah terlepas dari dan bebas dari ikatan
dunia yang fana ini., roh pergi ke alam baka yang katanya berupa suatu gunung
bernama tardongsau, di dalam hutan rimbanya di daerah hulu sungai. Lain-lain
orang yang sudah tebal agama kristennya berkata, bahwa kepka akan pergi
menghadap tuhan yesus. Desa roh di gunung tardongsau dibanyangkan sebagai suatu
desa dimana roh itu hidup tepat serupa dengan di dunia fana ini. Bahkan mereka
yang sudah bicara tentang sorga, seperti yang diajarkan oleh kristen, kalu ditanya terbukti masih juga membayangkan
kehidupan sorga seperti kehidupan di dunia ini, hanya lebih bahagia dan bersama
dengan ppara kdo, nenek moyang.
Untuk menggambarkan religi yang dianut masyarakat
papua, kami mengambil contoh dari daerah papua yang relatif lebih maju dan
daerah terasing: untuk daerah papua yang maju kami mengambil contoh daerah
Kabupaten Jayawijaya kecamatan Wawena. (1990: hlm. 17-18), tachier menguraikan
penduduk asli Kabupaten Jayawijaya sebagian besar memeluk agama Kristen
Protestan, Roma Khatolik dan islam. Semua hukum atau ketentuan-ketentuan agama
yang dianut selalau dituruti dengan baik, seperti pada hari minggu mereka tidak
bekerja tetapi harus ke gereja. Bila tidak dapat ke gereja. Bila tidak dapat ke
gereja, mereka lebih baik istirahat, dirumah atau honaydan agama islam terdapat
pada desa Walesi, dan di daerah ini sudah dibangun sebuah mesjid tempat
beribadah khusus untuk penduduk asli daerah tersebut. Namun demikian toleransi
beragama cukup baik dan hidup saling menghargai antara penganut agama satu
dengan lainya. Untuk daerah papua yang terasing kami mengambil contoh daerah
pegunungan jayawijaya yaitu masyarakat dani.
Dalam bukunya (1990: hlm.
282-166),Koentjaraningrat menguraikan dasar dari religi orang Dani adalah
penghormatan ruh nenek-moyang, yang upacaranya dipusatkann pada pesta babi.
Orientasi dan konsep-konsep serta kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya ditunjukan
pada kesejahteraan hidup dan peperangan. Konsep keagamaan yang terpenting
adalah atou, yaitu kekuatan sakti para nenek-moyang yang diturunkan secara
patrilineal. Kekuatan sakti itu dapat diturunkan kepada anak-anak pria maupun
wanita, namun wanita tidak dapat meneruskan kepada keturunannya. Kekuatan
tersebut antara lain dapat digunakan untuk menjaga kebun pemiliknya terhadap
pelanggaran-pelanggaran denagan memasang suatu tanda khusus. Orang yang
melanggarnya diyakini akan mengalami celaka, mereka yang diakui orang Dani
sebagai nenek-moyang pada umunya adalah manusia-manusia yang nyata dan pernah
mereka kenal (walaupun samar-samar), yang menurunkan mereka melalui garis
patrilineal tiga atau empat angkatan di atas mereka.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya
penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut:
1. Papua
adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau
Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya
merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea.
2. Papua mempunyai
unsur-unsur kebudayaan seperti sistem bahasa, peralatan hidup dan teknologi,
sistem ekonomi dan mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan hidup,
sistem kekerabatan, ilmu pengetahuan, kesenian dan religi.
B. Saran
Sejalan dengan simpulan diatas,
penulis merumuskan saran sebagai berikut:
1. Sebagai seorang
warga negara kita wajib memahami kebudayaan yang multikultural ini terlebih
untuk saling menghargai perbedaan antar budaya.
2. Sebagai calon
pendidik profesional hendaknya mempelajari serta memahami budaya-budaya yang
ada di Indonesia contohnya saja budaya Papua.
DAFTAR PUSTAKA
Data Geografis.
[Online].Tersedia http://pemkam.papua.go.id/?menu=geografis.
Koentjaraningrat
(2004). Manusia dan Kebudayaan di
Indonesia. Jakarta : Djambatan
Koentjaraningrat
(1990). Masyarakat Terasing di Indonesia.
Jakarta
Tachier. A. (1990). Pola Pengasuhan Anak Pada Masyarakat Pedesaan. Jakarta
Tari
Perang Papua. [Online].Tersedia
http://www.indonesiabox.com/tari-perang-papua/.
Tifa
Alat Musik dari Papua.
[Online].Tersedia http://terselubung.blogspot.com.
Senjata
adat Papua.(2011).
[Online].Tersedia http://zipoer7.wordpress.com.
Wahana
Budaya Indonesia.
[Online].Tersedia
http://www.wahana-budaya-indonesia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=788%3Ahonairumah-adat-papua&catid=101%3Aarsitektur-tradisional&Itemid=77&lang=id.
KEBUDAYAAN PAPUA
(Kajian Teoritis dan Aplikasinya dalam Pembelajaran)
MAKALAH
disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Kebudayaan Indonesia
Oleh
Nanda 1101082
Rina Meidawati 1102348
Sani 1105081
Yuliani 1100808
Yusuf 1101045
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENDIDIKAN SOSIAL
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2012
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan ke hadirat Alloh SWT. karena berkat rahmat dan
hidayahNya penulis telah mampu menyelesaikan makalah berjudul ‘Kebudayaan
Papua’ ,makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Kebudayaan Indonesia.
Dalam
penyusunan tugas atau makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak
lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan orang tua, sehingga kendala-kendala
yang penulis hadapi teratasi. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
Dosen
yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis
termotivasi dan menyelesaikan tugas ini.
Orang
tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan
sehingga tugas ini selesai.
Makalah
ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik
dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu,
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan
makalah ini.Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran
bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang
diharapkan dapat tercapai, Amin.
Bandung, Maret 2012
Penulis
Daftar Isi
Kata
Pengantar...........................................................................................................
Daftar
isi....................................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN........................................................................................
A.
Latar Belakang......................................................................................................
B.
Rumusan Masalah.................................................................................................
C.
Tujuan Pembuatan Makalah..................................................................................
D.
Manfaat Pembuatan Makalah...............................................................................
BAB
II ISI.................................................................................................................
1.
Letak Geografis dan Demografis...........................................................................
2.
Papua Timur...........................................................................................................
2.1 Luas Wilayah.................................................................................................
2.2 Letak Geografis.............................................................................................
2.3 Batas Wilayah................................................................................................
2.4 Topografi........................................................................................................
2.5 Iklim dan Cuaca.............................................................................................
3.
Papua Barat............................................................................................................
3.1
Luas Wilayah.......................................................................................................
3.2 Letak Geografis.............................................................................................
3.3 Batas Wilayah................................................................................................
3.4 Topografi........................................................................................................
3.5 Iklim dan Cuaca.............................................................................................
4.
Unsur-unsur Kebudayaan Papua............................................................................
4.1 Sistem Bahasa..............................................................................................
4.2 Sistem Peralatan Hidup dan
Teknologi........................................................
4.3 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Hidup...........................................
4.4 Sistem Kekerabatan.....................................................................................
4.5 Ilmu Pengetahuan........................................................................................
4.6 Kesenian.......................................................................................................
4.6.1 Rumah Adat......................................................................................
4.6.2 Senjata Tradisional.............................................................................
4.6.3 Tari-tarian...........................................................................................
4.6.4 Alat Musik.........................................................................................
4.6.5 Makanan Tradisional..........................................................................
4.7 Sistem Religi atau Agama............................................................................
BAB
III PENUTUP..................................................................................................
A.
Kesimpulan...........................................................................................................
B.
Saran......................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
papua merupakan
salah satu pulau terbesar di Negara Indonesia, karena luas pulau yang begitu
besar menyebabkan penyebaran penduduk yang begitu luas di daerah tersebut yang
menyebebkan banyaknya kultur budaya, bahasa, religi, interaksi sosial, matapencaharian,
sistem ekonomi dan pengetahuan yang berbeda di setiap daerah. Dan hal tersebut
membuat daya tarik pulau tersebut. Namun disayangkan karena banyaknya hal yang
berbeda tersebut menyebabkan seringnya timbul konflik antar suku.
Keragaman kultur budaya yang ada membuat
kita sadar akan kekayaan yang
dimili oleh Negara kita. Dan makalah ini dibuat agar kita bisa memahami dan
mengetahui beragam kultur budaya dan interaksi sosial apa saja yang ada pada
penduduk di daerah papua. Sehingga kita bisa memahami dan mempelajari 7 unsur
kebudayaan apa saja yang ada di daerah papua.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas , penulis merumuskan rumusan masalah sebagai
berikut.
1. Dimana letak geografis dan demografis wilayah Papua?
2. Dimana letak Papua Barat?
3. Dimana letak Papua Timur?
4. Apa saja unsur-unsur budaya Papua?
C. Tujuan penulisan Makalah
Sejalan
dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk
mengetahui dan mendeskripsikan:
1. letak geografis dan demografis wilayah papua
2. letak Papua Barat
3. letak Papua Timur
4. Unsur-unsur budaya Papua
D. Manfaat penulisan Makalah
Makalah
ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoretis maupun
secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai salah satu media
informasi dalam memahami bagaimana kehidupan di Papua. Secara praktis makalah
ini diharapkan bermanfaat bagi:
1.
Penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan
untuk memahami unsur-unsur kebudayaan di Papua.
2.
Pembaca/dosen, sebagai media informasi tentang unsur-unsur
kebudayaan di Papua baik secara teoritis maupun secara praktis.
BAB II
ISI
1. Letak Geografis dan Demografis
http://id.wikipedia.org/wiki/Papua#Sejarah menyatakan:
Papua
adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau
Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya
merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea.
Provinsi
Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua bagian barat, sehingga sering disebut
sebagai Papua Barat terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), gerakan
separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara
sendiri. Pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal
sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah
berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia Indonesia, wilayah
ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya
kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang
tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun
2002.
Nama
provinsi ini diganti menjadi Papua sesuai UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus Papua. Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan
Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh
pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian
baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (setahun kemudian menjadi Papua
Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini.
2. Papua Timur
2.1 Luas Wilayah
Luas
wilayah provinsi Papua adalah 317. 062 (Km2). Jika dibandingkan dengan wilayah
Republik Indonesia, maka luas wilayah Provinsi Papua merupakan 19,33 persen
dari luas Negara Indonesia yang mencapai 1.890.754 (Km2). Ini merupakan
provinsi terluas di Indonesia.
Persentase
penduduk Papua jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia secara keseluruhan
tercatat sebesar 0.77% pada tahun 1971. Kemudian pada tahun 1980 meningkat
menjadi 0,79%. Tahun 1990 peningkatan persentase jumlah penduduk Papua sangat
tinggi yang mencapai 0,91%. Pada tahun 2000 mengalami penurunan menjadi 0.86%
dan terakhir pada tahun 2005, pesentase jumlah penduduk Papua tercatat sebanyak
0.85%.
Kabupaten
Merauke merupakan daerah yang terluas yaitu 4397 Ha atau 13,87% dari total luas
Provinsi Papua. Sedangkan Kota Jayapura merupakan daerah terkecil tetapi
apabila dibandingkan dengan kota se-Indonesia, maka Kota Jayapura merupakan
kota yang terluas. Kota Wamena (Jayawijaya) dengan ketinggian 2000 - 3000 meter
diatas permukaan laut merupakan kota tertinggi dan terdingin di Papua.
Sedangkan yang terendah adalah kota Merauke dengan ketinggian 3.5 meter diatas
permukaan laut.
2.2 Letak Geografis
Provinsi
Papua dengan luas 31.7062 Km2, terletak diantara 130° - 141°Bujur Timur dan
2°25' Lintang Utara - 9° Lintang Selatan.
2.3 Batas Wilayah
Provinsi
Papua berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Samudera
Fasifik/Pacific Ocean
Sebelah Selatan : Laut Arafura/Arafura Sea
Sebelah Barat : Provinsi Papua Barat
Sebelah Timur :Papua New Guinea
2.4 Topografi
Pegunungan
Utama di Provinsi Papua terdiri atas Pegunungan Kobowre di Nabire, Pegunungan
Sudirman di Enarotali dan Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya di Jayawijaya,
Pegunungan Vanres di Mamberamo, Pegunungan Gauntier dan Pegunungan Wisnumurti.
2.5 Iklim dan Cuaca
Kota
Jayapura merupakan daerah dengan suhu udara tertinggi, mencapai 28,2 ºC ditahun
2005 sedangkan Wamena merupakan daerah dengan suhu udara terendah yang mencapai
19,4 ºC pada tahun 2004. Persentase kelembaban udara tertinggi mencapai 87% di
Biak pada tahun 2005 dan terendah mencapai 77% di Serui pada tahun 2001.
Rata-rata penyinaran matahari tercatat di Merauke yang mencapai 70% pada tahun
2005 sedangkan persentase terendah tercatat pada tahun 2003 di Biak yang
mencapai 37%.
3. Papua Barat
3.1 Luas Wilayah
Provinsi
Papua Barat memiliki luas wilayah 115.363,50 km2 dengan Kabupaten Teluk Bintuni
merupakan kabupaten terluas yaitu 18.658 km2 atau 16,17 persen dari total luas
wilayah Provinsi Papua Barat dan Kota Sorong merupakan kabupaten dengan luasan
terkecil yaitu 1.105 km2.
3.2 Letak Geografis
Provinsi
Papua Barat terletak antara 00,0" - 40,0" Lintang Selatan dan
1240,00" - 1320,0" Bujur Timur, tepat berada dibawah garis
khatulistiwa dengan ketinggian 0 - 100 meter dari permukaan laut.
3.3 Batas Wilayah
Batas
geografis Provinsi Papua Barat adalah :
Sebelah Utara
: Samudera Pasifik
Sebelah Selatan
: Laut Banda Provinsi Maluku
Sebelah Barat
: Laut Seram Provinsi Maluku
Sebelah Timur
: Provinsi Papua
3.4 Topografi
Kabupaten
Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10 - 100 m diatas
permukaan laut, sedangkan kota-kota lain yang terdapat di Provinsi Papua
Barat berkisar antara 10 - 50 m diatas
permukaan laut. Berdasarkan data dari
Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat Kabupaten Sorong dilintasi oleh 14
sungai dengan panjang keseluruhan 3.586 km atau sebesar 78,08 persen dari total
panjang sungai se Provinsi Papua Barat.
Berdasarkan
penggunaannya sebagian besar lahan bukan sawah di Provinsi Papua Barat
diperuntukkan untuk tahun 2004 mengalami penurunan.
3.5 Iklim dan Cuaca
Berdasarkan hasil pencatatan suhu udara pada beberapa Stasiun yang
berada di Kabupaten/Kota se- Provinsi Papua Barat pada tahun 2005 menunjukkan
bahwa suhu rata-rata tertinggi terjadi di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong
yaitu sebesar 27,70
derajat celsius dan suhu udara rata-rata terendah
berada di Kabupaten Fakfak yang hanya berkisar 14,50 derajat celsius (Tabel 5.)
Provinsi
Papua Barat mempunyai kelembaban udara yang hampir sama antar Kabupaten/Kota
yaitu berkisar pada 83,67 persen sampai 85 persen, dimana angka terendah
terjadi di Kabupaten Manokwari dan yang paling tinggi di Kabupaten Fakfak.
Tekanan
udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat seperti yang disajikan pada
Tabel 6 menunjukkan bahwa kabupaten
Sorong dan Kota Sorong mempunyai tekanan udara rata-rata tertinggi yaitu
sebesar 1.010,7 mbs, sementara tekanan udara rata-rata terendah terjadi di
kabupaten Fakfak dengan tekanan udara rata-rata sebesar 994,31 mbs.
Sepanjang
tahun 2005 curah hujan dibeberapa wilayah di Provinsi Papua Barat tecatat bahwa
curah hujan tertinggi terjadi di Kabupaten Fakfak yaitu sebesar 3.209 mm.
Sementara curah hujan terendah terjadi di Kabupaten Kaimana yang curah hujannya
hanya mencapai 127 mm.
4. Unsur-unsur Kebudayaan Papua
Papua
mempunyai unsur-unsur kebudayaan seperti sistem bahasa, peralatan hidup dan
teknologi, sistem ekonomi dan mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan
hidup, sistem kekerabatan, ilmu pengetahuan, kesenian dan religi.
4.1 Sistem Bahasa
Pulau
papua sangatlah luas yang membuat beraneka macam bahasa yang mereka miliki.
Tetapi bahasa tersebut sudah mulai tercampur atau beralkulturasi dengan bahasa
melayu yang terdapat pada pendududk sekitar pulau papua. Selama berabad-abad
penduduk asli papua telah menjalin suatu hubungan interaksi sosial dengan
penduduk yang berdekatan dengan pulau paua seperti maluku, dan sulawesi.Selama
kurun waktu tersebut, orang-orang dari pulau terdekat yang kemudian datang dan
menjadi bagian dari Indonesia yang modern, menyatukan berbagai keragaman
budaya di pulau papua.
Hal
ini tentunya membutuhkan interaksi yang cukup baik dan waktu yang tidak
sebentar agar para penduduk di Papua bisa belajar bahasa Melayu sebagai bahasa
pengantar, apalagi mengingat keaneka-ragaman bahasa yang mereka miliki. Pada
tahun 1963, dimana dari sekitar 700.000 populasi penduduk yang ada, 500.000
diantara mereka berbicara dalam 200 macam bahasa yang berbeda dan tidak
difahami antara satu dengan yang lainnya. Beragamnya bahasa diantara sedikitnya
populasi penduduk tersebut diakibatkan karena terbentuknya kelompok-kelompok
yang diisolasi oleh perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya selama
berabad-abad yang disebabkan oleh kepadatan hutan dan juga jurang yang curam
yang sulit untuk dilalui yang memisahkan mereka, oleh karena itu sekarang ini
ada sebanyak 234 bahasa pengantar di Papua, dua dari bahasa kedua tanpa
pembicara asli. Banyak dari bahasa ini hanya digunakan oleh 50 atau kurang
pemakainya. Di Papua juga terdapat bahasa ‘mapia’ yang hanya digunakan oleh 1
orang, sementara bahasa ‘tandia’ pleh 2 orang.
Sekarang
ini bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia, yang menjadi
bahasa pengantar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan merupakan bahasa didalam
melakukan berbagai transaksi. Bahasa Indonesia sendiri berasal dari bahasa
melayu yang sudah mengalami perubahan yang disebabkan pada zaman kolonial.
4.2 Sistem Peralatan Hidup dan
Teknologi
Untuk bertahan hidup masyarakat papua itu
salah satunya menggunakan sejata yang disebut pisau belati dan tombak , pisau
belati dan tombak itu biasanya digunakan untuk mencari bahan makanan di hutan
atau kebun dan untuk berburu. Selain itu untuk berkebun masyarakat papua sering
menggunakan peralatan sederhana yaitu tongkat kayu berbentuk linggis dan kapak batu.
Cara
untuk bertahan hidup lainnya selain menggunakan senjata yang di atas.
masyarakat papua membangun rumah, rumah tersebut adalah rumah honai terbuat
dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang.
Rumah honai mempunyai pintu kecil dan tidak mempunyai jendela tujuannya adalah
untuk melindungi mereka dari hewan liar dan menahan hawa dingin yang bersal dari
pegunungan papua.
4.3 Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian Hidup
Mata
pencaharian hidup yang terpenting dari orang Bgu adalah meramu sagu (pom).
Hutan-hutan sagu yang sekarang berada pada kira-kira tiga sampai lima kilometer
jauhnya dari desa-desa. Di daerah pedalaman di hulu-hulu sungai, seperti di
daerah hulu Tor misalnya, pekerjaan mencari sagu itu merupakan pekerjaan
wanita, adapun pekerjaan orang laki-laki adalah mencari hasil hutan dan sedikit
berkebun. Sedangkan mencari ikan adalah pekerjaan laki-laki maupun wanita.
Berburu juga merupakan suatu mata pencaharian penting yang exlusif dilakukan
oleh oleh orang laki-laki.
Untuk
lebih menggambarkan Mata Pencaharian hidup masyarakat Papua, kami mengambil
contoh dari daerah papua yang relatif lebih maju dan daerah terasing: untuk
daerah papua yang maju kami mengambil contoh daerah Kabupaten Jayawijaya
kecamatan Wawena. (1990: hlm.15 ), mata pencaharian pokok penduduk pada
kecamatan ini adalah bertani, yang masih bersifat liar dan berpindah-pindah.
Mereka mengelola tanah secara bergotong royong. Tanama pokok adalah ubi jalar
yang merupakan makanan pokok mereka. Disamping ubi jalar mereka juga menanam
sayur-=sayuran seperti: kol, wortel, buncis, kacang panjang, kentang dan lain
sebagainya. Sedangkan untuk menggambarkan daerah papua yang terasing kami
mengambil contoh dari daerah pegunuingan Jayawijaya yaitu masyarakat Dani.
Dalam bukunya (1990: hlm. 282-166),Koentjaraningrat menguraikan bahwa di
sekitar orang Dani selalu ada babi dan ubi manis (Disocorea esculanta). Secara
implisit ucapan ini menunjukan dua jenis mata pencaharian pokok orang Dani. Ubi
manis adlah jenis tanaman utama dalam kebun-kebun orang Dani, yang menurut
perkiraan merupakan 90% makanan mereka. Dengan peralatan yang masih sederhana,
yaitu tongkat kayu berbentuk lin ggis dan kampak batu.tanah halaman mereka
biasanya ditanami tembakau,pisang, dan tebu. Setelah tanah itu ditinggalkan,
lalu mereka membuka kebun yang baru di bidang tanah lain. Dalam kurun waktu
tertentu tanah bekas kebun lama yang kembali ditumbuhi pohon dan belukar itu
dapat dibuka lagi setelah kesuburannya pulih kembali.
4.4 Sistem Kekerabatan
Koentjaraningrat
(2004: 78) Suatu rumah di desa Daerah Pantai Utara biasanya didiami oleh satu
keluarga-batih, kadang-kadang ditambah dengan beberapa kerabat lain, ialah
seorang ibu atau ayah yang tua, menantu dan cucu-cucu atau sodara perempuan
isteri dengan suaminya. Demikian walaupun komposisi kerabat yang merupakan
suatu rumah tangga itu kadang-kadang bersifat keluarga luas, namun kalau
diambil rata-rata jumlah anggota rumah tangga disana, angkanya tetap kecil,
ialahkira-kira 4 orang. Seorang kepala
keluarga-batih tercatat dalam buku gereja, yang sekalian juga merupakan
suatu buku register desa dengan suatu nama Kristen, misalnya Huber Barge.
Seperti dalam masyarakat orang Eropah, orang Bgu mendapat nama keluarga dari
ayahnya. Anak-anak Huber Bagre juga mendapat nama Barge dengan nama Kristen,
menjadi misalnya Wempi Barge. Dengan demikian tampak di desa-desa Bgu dan juga
di desa-desa di Pantai Utara pada umunnya, golongan-golongan orang atau
kolektifa kolektifita dengan nama yang sama, yang seolah-olah merupakan
kelompok-kelompok kekerabatan atau klen-klen patrilineal yang kecil.
4.5 Ilmu Pengetahuan
atau Pendidikan
Koentjaraningrat
(2004: 92) Kabupaten jayawijaya pada tahun ajaran 1986/1987 terdapat 3 buah TK
dengan 6 buah ruang belajar dan menampung 179 orang murid, dengan jumlah tenaga
guru 8 orang, guru tetap 2 orang dan 6 guru tidak tetap. Sampai saat ini TK
tersebut masih berstatus swasta. Jumlah SD sebanyak 305 buah terdiridari 226
negeri dan 79 swasta dengan jumlah ruang belajar 1.352 buah, jumlah murid
31.313 orang, tenaga pengajar 1176 orang. Sekolah Menengah Tingkat Pertama
terdapat 22 buah SMP terdiri dari 14 negeri dan 8 swasta, dengan memiliki 99
ruang belajar dan menampung 4.463 murid, dan jumlah tenaga pengajar sebanyak
245 orang guru tetap dan tidak tetap. Sekolah Menengah Tingkat Atas sebanyak 4
buah, terdiri dari 1 buah SMA Negeri, 2 SPG swasta dan 1 SMEA swasta yang
seluruhnya memiliki 17 ruang belajar, dan menampung 1.923 orang sisiwa, dengan
jumlah tenaga pengajar 8 orang guru tetap dan 30 orang guru tidak tetap.
Masalah Pendidikan
Ciri-ciri
mental yang bersifat merintangi pembanguan dan kemajuan itu, memang hanya dapat
dirubah dengan amat lambat dan di dalam ini pendidikan merupaka salah satu alat
yang terpenting. Sayang sekali bahwa pada umumnya taraf pendidikan sekolah di
Distrik pantai utara masih terlampau rendah. Ada suatu gejala kekurangan guru
yang menyebabkan bahwa dalam beberapa tahun lamanya. Adapun guru-guru yang ada,
adalah guru-guru pribumi irian yang pendidikannya hanya cukup untuk mengajar
disekolah-sekolah dasar tiga tahun, sehingga pendidikan disekolah-sekolah desa
itu nanti akan menghasilkan gejala anak-anak canggung.
Sebaliknya,
untuk menarik guru-guru itusupaya di up-grade dan diberi pendidikan-pendidikan
tambahan yang tentunya akan makan waktu beberapa tahun, akan menambah
lowongan-lowongan yang ada susahnya, lowongan-lowongan itu sukar untuk diisi
dengan guru-guru bukan pribumi Irian, misalnya oleh sukarelawan pendidikan,
karena betapa pun bersemangatnya mereka itu, mereka tidak akan dapat hidup
dalam masyarakat-masyarakat desa pantai utara itu. Gru-guru sukarelawan juga
tidak bisa makan makanan Indonesia bagian Barat, karena hal itu akan
menimbulkan masalah logistik yang amat sulit. Toko-toko di desa-desa pantai
amat jarang, sehingg ada desa-desa yang letaknya sampai empat hari berjalan
bolak-balik dari sebuah toko. Kalau seorang guru harus harus pergi empat hari
hanya untuk belanja, belum diperhitungkan masalah mengangkut barang
belanjaannya yang harus dipikul diatas punggung manusia yang pada jarak 50 Km
sehari secara maksimal hanya bisa mengangkat 30 Kg, maka kita bisa membayangkan
betapa besar kesukaran supply itu baginya, Memang masalah memajukan pendidikan
sekolah juga erat bersangkutan dengan masalah menghapuskan isolasi fisik.
4.6 Kesenian
Terdapat
beberapa kesenian di Papua seperti alat musik, tari-tarian dan berbagai macam
musik tradisional lainnya.
4.6.1 Rumah Adat
(http://www.wahana-budaya-indonesia.com/ ) menyatakan :
Rumah adat Masyarakat Papua, atau yang biasa disebut
dengan Honai.
Honai
adalah rumah khas Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Rumah Honai terbuat dari
kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai
mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Sebenarnya, struktur
Honai dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan
hawa dingin pegunungan Papua.
Honai
terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai
kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena
dibangun 2 lantai, Honai memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter. Pada bagian
tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan
diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut
Honai), wanita (disebut Ebei), dan kandang babi (disebut Wamai).
4.6.2 Senjata Tradisional
(http://id.wikipedia.org/wiki/Papua) menyatakan :
Salah
satu senjata tradisional di Papua adalah Pisau Belati. Senjata ini terbuat dari
tulang kaki burung kasuari dan bulunya menghiasi hulu Belati tersebut. senjata
utama penduduk asli Papua lainnya adalah Busur dan Panah. Busur tersebut dari
bambu atau kayu, sedangkan tali Busur terbuat dari rotan. Anak panahnya terbuat
dari bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu
atau berperang.
Salah
satu senjata tradisional di Papua lainnya yang cukup terkenal dan menjadi
senjata utama adalah adalah Busur dan Panah.
Busur tersebut terbuat dari
sekang bambu atau kayu, sedangkan tali Busurnya terbuat dari sekang rotan. Anak
panahnya terbuat dari sekang bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah
dipakai untuk berburu atau berperang. Selain ketiga senjata di atas tameng juga
merupakan alat adat yang
dipergunakan untuk pertahanan perang. Konsep tameng
ini selanjutnya dipergunakan untuk aparat
4.6.3 Tari-tarian
http://www.indonesiabox.com/tari-perang-papua/ menyatakan:
Tarian
ini melambangkan kepahlawanan dan kegagahan rakyat Papua. Biasanya tarian ini
di bawakan ketika kepala suku memerintahkan para prajurit untuk berperang,
dengan tarian ini semangat prajurit dapat semakin berkobar. Namun seiring
perkembangan zaman dan peraturan pemerintah yang melarang keras adanya
peperangan antar suku, tarian ini kini hanya menjadi tarian penyambut tamu
undangan.Ditarikan oleh 16 laki-laki dan 2 perempuan, mereka menari dengan
iringan tifa dan lantunan lagu-lagu perang pembangkit semangat. Panas mentari
Papua yang menyengat tidak memudarkan semangat mereka untuk terus menari dan
menabuh musik pukul yang menjadi ikon Papua tersebut.Dengan mengenakan busana
tradisional, dengan manik-manik penghias dada,rok terbuat dari akar, dan
daun-daun yang disisipkan pada tubuh menjadi bukti kecintaan masyarakat Papua
pada alam. (disadur dari berbagai sumber).-4.269928,138.080353
4.6.4 Alat Musik
(http://terselubung.blogspot.com) menyatakan :
Tifa
adalah alat musik yang berasal dari maluku dan papua, Tifa mirip seperti
gendang cara dimainkan adalah dengan dipukul. Terbuat dari sebatang kayu yang
dikosongi atau dihilangi isinya dan pada salah satu sisi ujungnya ditutupi, dan
biasanya penutupnya digunakan kulit rusa yang telah dikeringkan untuk
menghasilkan suara yang bagus dan indah. bentuknyapun biasanya dibuat dengan
ukiran. tiap suku di maluku dan papuamemiliki tifa dengan ciri khas nya
masing-masing.
Tifa
biasanya dimainkan untuk mengiringi tarian tradisional, seperti Tarian perang,
Tarian tradisional asmat,dan Tarian gatsi. rian ini biasanya digunakan pada
acara-acara tertentu seperti upacara-upacara adat maupun acara-acara penting
lainnya.
4.6.5 Makanan Tradisional
(http://www.jalanjalanyuk.com/sagu-makanan-khas-papua/)
menyatakan :
Hamparan
tanaman sagu di Papua, diperkirakan adalah yang terluas di dunia, denagn
menguasai 85 persen total luas tanaman sagu di seluruh Indonesia. Papua adalah
propinsi penghasil sagu terbesar, dan luasnya tak kurang dari 700.000 hektar
lahan sagu.
Secara turun temurun, masyarakat Papua
mampu memilih bibit sagu yang baik. Dan mereka secara tradisional bergantung
kepada alam, serta mengolah sagu dengan tenaga manual. Alat-alatpun mereka
ciptakan sendiri menyesuaikan dengan teknik pengolahan sagu yang mereka kuasai.
Tak ada bantuan mesin, semuanya mereka kerjakan sendiri.
Tanaman
sagu sudah bisa dipanen jika berumur dua sampai tiga tahun. Dalam satu
keluarga, mereka bergotong-royong memanen sagu, dan akan mendapatkan sekitar
150 hingga 300 kilogram sagu yang bisa memenuhi kebutuhan makanan mereka selama
dua minggu hingga satu bulan. Awalnya, pohon sagu ditebang dan kemudian
batangnya dikuliti. Dengan menguliti batang sagu tersebut, didapatkanlah
intinya, yang merupakan sagu yang berada di dalam pohon.
Inti
pohon sagu tersebut kemudian dibelah hingga didapatkan ukuran yang lebih kecil.
Setelah itu, diambil dan ditumbuk. Penumbukan sagu dilakukan dengan alat yang
disebut pangkur. Pangkur ini bentuknya lancip, mirip dengan tombak pada
ujungnya. Berbentuk menyerupai cangkul yang berfungsi menghancurkan sagu
menjadi potongan kecil-kecil menyerupai serat. Yang selanjutnya kemudian
dicampur dengan air. Pada proses selanjutnya, sagu akan mengendap dan
memisahkan diri dari air, endapan tersebut yang akan dipadatkan dan dibentuk
seperti bola atau lontong dan disimpan dalam wadah-wadah khusus.
4.7 Sistem Religi atau Agama
Walaupun secara resmi orang
penduduk Pantai Utara beragama kristen, namun tanggapan dunia gaib dan dunia
akhirat masih banyak berasal dari religi mereka yang asli. Konsepsi mengenai
dunia akhirat misalnya adalah sebagai berikut: jiwa orang mati (fonggumu =
pikiran) melepaskan diri dari tubuh dan menjadi roh (kepka) dalam waktu yang
berangsur-angsur. Dalam proses itu ia
masih berada sekitar rumah tempat tinggalnya. Itulah sebabnya keluarga si wafat
diasingkan dalam rumah supayatidak menulari masyarakatdengan suasana kewafatan
dan kepka dari si wafat itu. Kalu sudah terlepas dari dan bebas dari ikatan
dunia yang fana ini., roh pergi ke alam baka yang katanya berupa suatu gunung
bernama tardongsau, di dalam hutan rimbanya di daerah hulu sungai. Lain-lain
orang yang sudah tebal agama kristennya berkata, bahwa kepka akan pergi
menghadap tuhan yesus. Desa roh di gunung tardongsau dibanyangkan sebagai suatu
desa dimana roh itu hidup tepat serupa dengan di dunia fana ini. Bahkan mereka
yang sudah bicara tentang sorga, seperti yang diajarkan oleh kristen, kalu ditanya terbukti masih juga membayangkan
kehidupan sorga seperti kehidupan di dunia ini, hanya lebih bahagia dan bersama
dengan ppara kdo, nenek moyang.
Untuk menggambarkan religi yang dianut masyarakat
papua, kami mengambil contoh dari daerah papua yang relatif lebih maju dan
daerah terasing: untuk daerah papua yang maju kami mengambil contoh daerah
Kabupaten Jayawijaya kecamatan Wawena. (1990: hlm. 17-18), tachier menguraikan
penduduk asli Kabupaten Jayawijaya sebagian besar memeluk agama Kristen
Protestan, Roma Khatolik dan islam. Semua hukum atau ketentuan-ketentuan agama
yang dianut selalau dituruti dengan baik, seperti pada hari minggu mereka tidak
bekerja tetapi harus ke gereja. Bila tidak dapat ke gereja. Bila tidak dapat ke
gereja, mereka lebih baik istirahat, dirumah atau honaydan agama islam terdapat
pada desa Walesi, dan di daerah ini sudah dibangun sebuah mesjid tempat
beribadah khusus untuk penduduk asli daerah tersebut. Namun demikian toleransi
beragama cukup baik dan hidup saling menghargai antara penganut agama satu
dengan lainya. Untuk daerah papua yang terasing kami mengambil contoh daerah
pegunungan jayawijaya yaitu masyarakat dani.
Dalam bukunya (1990: hlm.
282-166),Koentjaraningrat menguraikan dasar dari religi orang Dani adalah
penghormatan ruh nenek-moyang, yang upacaranya dipusatkann pada pesta babi.
Orientasi dan konsep-konsep serta kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya ditunjukan
pada kesejahteraan hidup dan peperangan. Konsep keagamaan yang terpenting
adalah atou, yaitu kekuatan sakti para nenek-moyang yang diturunkan secara
patrilineal. Kekuatan sakti itu dapat diturunkan kepada anak-anak pria maupun
wanita, namun wanita tidak dapat meneruskan kepada keturunannya. Kekuatan
tersebut antara lain dapat digunakan untuk menjaga kebun pemiliknya terhadap
pelanggaran-pelanggaran denagan memasang suatu tanda khusus. Orang yang
melanggarnya diyakini akan mengalami celaka, mereka yang diakui orang Dani
sebagai nenek-moyang pada umunya adalah manusia-manusia yang nyata dan pernah
mereka kenal (walaupun samar-samar), yang menurunkan mereka melalui garis
patrilineal tiga atau empat angkatan di atas mereka.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya
penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut:
1. Papua
adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau
Papua atau bagian paling timur West New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya
merupakan negara Papua Nugini atau East New Guinea.
2. Papua mempunyai
unsur-unsur kebudayaan seperti sistem bahasa, peralatan hidup dan teknologi,
sistem ekonomi dan mata pencaharian, sistem teknologi dan peralatan hidup,
sistem kekerabatan, ilmu pengetahuan, kesenian dan religi.
B. Saran
Sejalan dengan simpulan diatas,
penulis merumuskan saran sebagai berikut:
1. Sebagai seorang
warga negara kita wajib memahami kebudayaan yang multikultural ini terlebih
untuk saling menghargai perbedaan antar budaya.
2. Sebagai calon
pendidik profesional hendaknya mempelajari serta memahami budaya-budaya yang
ada di Indonesia contohnya saja budaya Papua.
DAFTAR PUSTAKA
Data Geografis.
[Online].Tersedia http://pemkam.papua.go.id/?menu=geografis.
Koentjaraningrat
(2004). Manusia dan Kebudayaan di
Indonesia. Jakarta : Djambatan
Koentjaraningrat
(1990). Masyarakat Terasing di Indonesia.
Jakarta
Tachier. A. (1990). Pola Pengasuhan Anak Pada Masyarakat Pedesaan. Jakarta
Tari
Perang Papua. [Online].Tersedia
http://www.indonesiabox.com/tari-perang-papua/.
Tifa
Alat Musik dari Papua.
[Online].Tersedia http://terselubung.blogspot.com.
Senjata
adat Papua.(2011).
[Online].Tersedia http://zipoer7.wordpress.com.
Wahana
Budaya Indonesia.
[Online].Tersedia
http://www.wahana-budaya-indonesia.com/index.php?option=com_content&view=article&id=788%3Ahonairumah-adat-papua&catid=101%3Aarsitektur-tradisional&Itemid=77&lang=id.

asalamualaikum teh rina :)
BalasHapusini aku tamii
teteh aku udah baca blognya isinya cukup bagus dan bisa buat jadi referensi untuk adik-adik kelas kita untuk mngenal salah satu kebudayaan indonesia khususnya tentang kebudayaan papua.
oiyah tehh untuk kostumnya yang ada di foto itu kreasi sendiiri ya?? bagus loh teeh
kalo boleh saran ni teeh teteh tambahin lagi dong tulisan di blog teteh yaah.
sgitu dulu ya terimakasih :)
wasalam
walaikumsalam utami. oh syukur deh kalo menurut kamu tulisannya bermanfaat untuk yang lain, makasih kalo tulisan aku di baca. itu makalah untuk presentasi kebudayaan Indonesia dan kostumnyapun di sesuaikan dengan tema presentasi yaitu kebudayaan papua. kami membuat kostum tersebut bersama-sama. ia nanti kalau ada waktu aku buat tulisan di blog lagi.
BalasHapus